Selasa, 20 September 2011

JANJI


         Aku membuat cerita ini untuk mengenang cerita tentang kehidupanku yang sangat konyol. Aku akan memulainya saat aku masih kecil. Saat aku berumur 8 tahun. Kalian mau mengetahuinya? Inilah kisah hidupku. Selamat membaca !
***

Namaku Sun. Umurku 8 tahun.  Aku punya seorang teman yang sangat baik. Dia bernama Vina. Kami selalu bermain bersama. Kami pernah berjanji kami akan terus bersama. Jika kami berpisah,kami pasti akan bertemu. Itulah janji kami.
                7 tahun telah berlalu,kami juga masih bersama. Vina telah mempunyai kekasih. Meskipun telah mempunyai kekasih,tapi kami terus bersama. Hingga akhirnya pada bulan Juli aku pergi meninggalkan Vina karena aku pindah keluar kota. Vina mengatakan padaku bahwa aku harus berjanji jika aku telah mencapai cita-citaku aku akan menemui dia. Aku berjanji kepada Vina aku pasti akan bertemu dengannya.
                Di kota tempat aku tinggal sekarang,banyak sekali teman-teman yang baik padaku. Disana aku sangat senang sekali karena mempunyai banyak teman. Sudah 2 tahun aku berada disana. Aku sudah lupa dengan Vina. Bulan Maret tanggal 23 adalah hari ulang tahunku. Aku mendapatkan surat.
                Aku tak tahu surat itu dari siapa. Di belakang amplopnya ada nama pengirimnya yaitu Vina. “Siapa Vina itu,apakah aku mempunyai teman bernama Vina?” Tanyaku dalam hati. Aku membaca surat itu. Isi surat itu adalah:
To:my best friend
    Sun.
                Sun,apa kabar,lama kita tak jumpa. Kau sekarang tak memberi kabar sama sekali. Bagaimana kabarmu disana? Semoga kau baik-baik saja dan mempunyai banyak teman ya.. Oh ya k au berulang tahun ya. SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 17. SEMOGA KAU SEMAKIN BAIK,SEHAT DAN SUKSES SELALU. Sun,kau masih ingat dengan janji kita kan?! Apakah sekarang ini kau telah mencapai impianmu? Jika sudah cepatlah kembali Sun. Oh ya Sun apakah sekarang ini kau telah mempunyai pacar?
                Oh ya Sun,teman-teman disini juga merindukanmu. Jangan lupakan kami ya Sun. sekian dulu surat dariku. Tolong segera dibalas ya kalau kau sudah mendapatkan surat ini.
From your best friend
VINA

Aku masih bingung siapakah Vina itu. Aku bertanya pada ibu dan ayahku. “ Ayah,ibu. Apakah kalian mengenal anak yang bernama Vina?” Tanyaku.
“ Vina kan temanmu sendiri Sun. Masa’ kau lupa dengannya. Bukankah kau selalu bersama dengannya dan berjanji bahwa kau akan kembali jika kau telah mencapai cita-citamu?” Kata Ibu.
                “ Aku tak mengingat orang yang bernama Vina.” Aku masih berusaha mengingat.
“ Mana mungkin. Jika kau tak mengingatnya mengapa kau masih memakai kalung yang diberikan Vina untuk hadiah ulang tahunmu yang ke 15?” Kata ayah.

Aku melihat kalungku. Kalung itu memang ada ketika aku berumur 15 tahun. Tapi aku tak mengingat sama sekali siapa pemberinya. Lalu aku masuk kedalam kamarku dan mengingatnya. Aku juga membalas surat itu. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah sangat pagi. Tak seperti biasanya.
“ Hei  Sun. tak seperti biasanya kau berangkat pagi. Mimpi apa kau semalam?” Suara Beby mengagetkanku dari belakang membuyarkan lamunanku.
“ Eh Beby kau membuatku kaget saja. Aku hanya ingin berangkat pagi saja. Memangnya tak boleh?” Kataku.
“ Sepertinya ada yang kau pikirkan Sun? Ceritakan padaku Sun apa yang terjadi?” Tanya Beby.
                “ Kemarin aku mendapatkan surat. Surat itu dari Vina. Tapi,aku tak mengenal siapa itu Vina? Kata ibuku Vina adalah teman baikku. Bahkan kami telah membuat janji jika kau berhasil mencapai cita-citaku, maka aku akan menemuinya. Kata ibuku yang memberikan kalung ini adalah Vina.” Aku menunjukkan kalung itu pada Beby.
                “ Bukankah kalung itu yang selalu kau gunakan dan tak pernah kau lepas. Bahkan kau pernah mengatakan bahwa kalung itu yang menyimpan semua janjimu kepada seseorang. Aku juga tak tahu siapa yang kau maksud.” Kata Beby.
“ Apakah aku pernah berkata begitu?” Tanyaku.
 “ Tentu saja. Bukankah kalung itu pernah dicuri oleh preman dan kau berjuang mati-matian untuk mendapatkan kalung itu kembali?” Kata Beby.
                Aku diam saja. Selama pelajaran, aku tak berkonsentrasi dan ingin segera pulang untuk mengirim surat ini. Bel sekolah pun berbunyi. Aku segera pulang dan pergi ke kantor pos untuk mengirim surat itu menggunakan pos ekspres.  Jika menggunakan pos ekspres,dalam waktu sehari surat itu telah sampai kepada si penerima.

***
                Di tempat Vina,Vina sedang menyiram bunga di halaman. “Pos..Pos..” terdengar suara tukang pos. Vina segera berlari keluar dan mengambil surat dari pak pos. Vina segera masuk ke kamar dan membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:Vina

                Hai,kabarku baik-baik saja dan aku mempunyai banyak teman disini. Terima kasih untuk ucapan ulang tahunnya. Tapi,maafkan  aku tak mengenal anda. Bahkan aku tak mengingat janji apa yang pernah aku buat? Aku belum mempunyai kekasih. Maafkan aku jika perkataanku menyakiti hatimu. Tapi aku benar-benar tak tahu siapa kau. Sekian suratku.                                                                               From: Sun

 “ Apakah Sun memang benar-benar melupakanku? Aku kecewa sekali dengan dia. Dia tak pernah berbohong kepadaku. Tapi,mengapa Sun melupakanku?” Vina pun menangis. Seharian itu Vina menangis. Tapi dalam hati Vina dia berharap agar Sun mengingat semua.

                5 tahun kemudian, aku telah berhasil mencapai cita-citanya yaitu untuk menjadi seorang dokter. Vina pun juga telah mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang Pramugari. Pada saat aku masih berada di rumah sakit, Vina pergi ke rumah orang tua Sun.

“ Permisi. Apakah ini benar rumah Sun?” Tanya Vina.

           “ Oh ya benar. Silakan masuk.” Kata ibu Sun mempersilakan.
“ Maaf anda ini siapa dan ingin bertemu dengan siapa?”  Tanya ayah Sun.
 “ Nama saya Vina. Saya kesini ingin menanyakan sesuatu.” Kata Vina.
“ Kau Vina? Wah sekarang ini kau cantik sekali. Kau mau bertanya apa Vina?” Tanya Ayah Sun.
                “Aku ingin menanyakan apakah Sun melupakanku?” Tanya Vina.
“ Iya. Dia berusaha mengingat. Tapi dia tak mengingat apapun. Apakah kau sakit hati?” Tanya Ibu Sun.
 “ Oh tidak ada apa-apa. Apakah Sun telah menjadi seorang dokter?” Tanya Vina.
“ Ya.” Kata mereka berdua serempak.
“ Kalau begitu aku pamit pulang dulu.” Kata Vina.
                Keesokan harinya,Vina menulis surat dan menitipkan pada ibu Sun. malam harinya,pukul 9 malam aku pulang dengan keadaan sangat lelah.
“ Sun,tadi ada surat untukmu. Bacalah ini.” Kata ibu Sun memberikan surat itu kepadaku. Aku membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:my best friend
Sun.
Sun. Kemarin aku kerumahmu. Sekarang kau telah mencapi cita-citamu. Kini aku menagih janjimu Sun. Jika kau masih belum mengingatku ,bukalah kalungmu itu.
Cara membukanya kau katakanlah “ Janji untuk selamanya ”. Kau akan mengingat semuanya. Kalau kau telah mengingatku,temuilah aku di taman air mancur pukul 9.30 malam. Karena aku hanya bisa sampai jam 10.00 malam. Karena aku akan penerbangan malam ini.
From:your best friend
VINA


aku membuka kalungnya sesuai dengan perintah yang ada di surat, lalu keluarlah sebuah suara yang berbunyi:
“Vina kau adalah teman terbaikku. Aku takkan melupakanmu. Kita telah berjanji kita kan terus bersama dan jika kita berpisah,kita pasti kan bertemu kembali,kan Vina?”
 “Ya tentu saja. Aku juga takkan melupakan dirimu. Kita akan menepati janji kita. Kau juga jangan mengingkari janji kita.”
                Aku teringat akan suara itu. Itu adalah suaraku dan suara Vina ketika mereka akan berpisah. Aku segera melihat jam.  Jam telah menunjukkan pukul 9.50. Aku segera berangkat ke taman. Perjalanan dari rumah hingga ke taman membutuhkan waktu 5 menit lebih. Aku ingin sekali menemui Vina untuk menepati janjiku kepada Vina.
                Sampai di taman,tak ada siapapun disana. Hanya ada aku sendiri yang berada di taman. Aku mencari Vina. Tetapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku menangis di kursi taman. Aku menyesali kebodohanku karena telah melupakan Vina.
“ Mengapa aku bisa melupakan Vina. Padahal aku telah berjanji dengan dia. Aku memang bodoh. Mungkin Vina sekarang telah pergi. Bodohnya aku. Bodoh bodoh bodoh…” Aku benar-benar sangat menyesal.
                “Kau memang bodoh Sun.” Suara dari arah belakang mengagetkanku.
“Vina.” Aku sangat senang sekali bertemu dengan Vina. Aku segera menghampiri Vina dan  segera memeluk Vina karena sangat senang sekali.
“ Vina. Maafkan aku. Tapi,sekarang ini aku telah menepati janjiku.” Kataku dengan sangat senang.
” Sun aku juga sangat senang bertemu denganmu. Malam ini aku tak jadi ikut penerbangan karena temanku meminta untuk menggantikan posisiku.” Kata Vina.
`               Semalaman itu di taman, aku dan Vina saling bertukar cerita. Aku benar-benar sangat senang dapat kembali lagi dengan Vina. Malam itu juga adalah malam yang membuatku bahagia. Aku menjadi kekasih Vina.
                Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Aku benar-benar sangat bahagia hidup dengannya dan menjadi belahan jiwanya. Lalu, cerita ini akan selalu aku kenang karena ini adalah cerita tentang kebodohanku yang melupakan semua janjiku. Jangan ada yang meniruku ya! ;)

Rabu, 17 Agustus 2011

Bintang


               Ini adalah pengalaman yang pernah kulupakan. Cerita ini berawal saat aku sedang bermain dengan teman dekatku.

***
 
“ Bintang. Tunggu aku.” Teriak seseorang. Itu adalah suara yang aku kenal.
 “ Ayo Pluto kau harus bisa mengejarku!” aku terus berlari secepat mungkin menghindar dari Pluto tapi pandanganku terus menghadap ke arah Pluto..
“ Bintang, jangan kesana! Bintang lihatlah depanmu! Bintang!!!” Pluto berteriak sangat keras.
Aku tak tahu mengapa dia khawatir. Ketika aku melihat kedepan, ternyata ada sebuah sungai yang sangat besar. Aku tak bisa menghentikan lariku dan akhirnya aku terjatuh. Aku berusaha untuk berpegangan pada apapun. Hanya saja usahaku sia-sia. Lalu aku tak sadarkan diri.

***

 “ Nak, bangunlah nak.” Suara seseorang membangunkanku. Entah kenapa aku merasa aneh. Aku tak tahu siapa aku dan darimana aku.
 “ aku dimana? Siapa aku?” tanyaku pada orang itu. Ternyata orang itu adalah nenek-nenek yang sudah tua.
 “ Nak, kau hanyut di sungai tadi. Kalau aku perkirakan kau sudah terlalu lama mengapung di sungai. Karena bajumu sangat basah bahkan sudah mulai tumbuh jamur di bajumu. Namamu siapa nak?” Tanya nenek itu.
“ Aku tak tahu siapa aku.” Kataku. Aku berusaha mengingat siapa diriku.
 “ Mungkin karena terlalu banyak air yang masuk kepala tadi sehingga kau lupa. Sebaiknya kau tinggal saja disini sampai kau mengingat semuanya. Nenek akan buatkan kau teh hangat.” Nenek itu meninggalkanku.
                Aku melihat ada sebuah cermin di kamar itu. Aku berkaca dan aku melihat diriku sendiri. Aku terlihat sangat kotor. Mungkin benar apa kata nenek itu aku terlihat sudah terlalu lama mengapung di sungai. Kepalaku pun terasa berat rasanya hingga aku tak kuat dan aku membaringkan tubuhku perlahan.
  “ Ini teh hangatnya. Kau minum dulu.” Nenek itu menyodorkan segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap. Aku meminumnya perlahan. Rasanya sangat nyaan di tubuh dan kepalaku tak terlalu berat lagi.
“ Bagaimana sekarang keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?” Tanya nenek.
“ ya rasanya kepalaku sedikit ringan. Nyaman sekali.” Kataku.
“Sebaiknya kau beristirahat dulu hingga keadaanmu pulih. Setelah itu kita cari tahu siapa kau.” Kata nenek itu lalu meninggalkanku.
                Aku hanya diam saja. Keesokan harinya keadaanku sudah membaik dan aku juga membantu nenek melakukan pekerjaannya. Nenek itu adalah seorang petani yang tinggal sendiri. Cucunya dan anaknya pergi ke negeri seberang untuk mencari pekerjaan. Sementara dia di tinggal sendirian di desa itu. Setiap malam aku selalu melihat kelangit. Mungkin saja disana ada namaku yang tertulis. Tapi itu mustahil. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan langit.
                Tetanggaku adalah seorang guru. Dia mengajarkanku tentang langit dan juga benda-benda angkasa. Seperti nama-nama planet, rasi bintang, revolusi dan rotasi. Aku sangat suka mempelajari semuanya. Akhirnya mereka memanggilku angkasa karena aku sangat suka tentang angkasa.
Suatu hari guru Chong bertanya padaku, “ Hei, Angkasa. Apa kau sudah menemukan namamu sendiri?”
 “ Belum guru. Aku masih belum tahu siapa aku. Tapi aku seperti tidak asing dengan nama Pluto. Seperti nama seseorang. Entah memang ada orang yang bernama Pluto atau tidak. Tapi aku masih tak terlalu yakin.” Kataku.
“ Kau tadi bilang orang yang bernama Pluto?” tanyanya.
“ Iya. Aku seperti mengenal nama itu, tapi aku tak tahu apakah memang ada orang yang bernama Pluto?” kataku.
“ Ada. Aku mengenalnya. Dia adalah temanku yang tinggal di kerajaan Angkasa. Dia adalah teman dekat putri kerajaan Angkasa. Mungkin kau masih ada hubungannya dengan Pluto. Bagaimana kalau besok kita pergi ke kerajaan Angkasa?” guru Chong memberi usul.
" Dimana kerajaan Angkasa itu? Memang ada kerajaan bernama Kerajaan Angkasa." Tanyaku.
" Letaknya jauh dari sini. Butuh berhari-hari untuk perjalanan kesana dengan berjalan kaki. Itu kerajaan besar yang terkenal. Apalagi kerajaan Pluto memiliki putri semata wayang yang cantik dan baik hati." Kata guru chong
 “ tapi, nanti bagaimana dengan nenek? Aku tak tega kalau meninggalkannya. Kan nenek sendirian.”
“ nenek itu adalah orang yang kuat. Bahkan sebelum kau ada disini dia sudah bisa menghidupi dirinya. Apalagi ketika kau datang, hidupnya lebih dari cukup.” Kata Guru Chong.
“ baiklah. Malam ini aku akan minta izin pada nenek.” Kataku. 
                     Lalu aku pulang dan segera memberi tahu pada nenek bahwa aku akan pergi dengan guru Chong. Untunglah nenek mengizinkanku pergi dengan guru chong. Keesokan harinya aku pergi meninggalkan nenek. Selama 5 hari kami melakukan perjalanan. Akhirnya kami sampai juga di kerajaan Angkasa. Kami langsung pergi ke rumah Pluto. Ketika sampai, guru Chong dan Pluto itu melepas rindu.
 “ Pluto, sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya guru Chong.
“ aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu disana Chong. Apa kau masih menjadi seorang guru?” Tanya Pluto.
“ Tentu saja. Itu sudah cita-citaku sejak dulu. Oh ya Pluto kenalkan ini temanku namanya Angkasa. Dia amnesia. Sampai saat ini dia belum ingat siapa nama aslinya dan asalnya.” Guru Chong memperkenalkanku pada orang yang bernama Pluto itu. Aku berjabatan tangan dengannya. Dia sangat kaget pada saat berjabat tangan denganku, seperti melihat hantu saja. 
 “ Hei Pluto, mengapa wajahmu seperti ketakutan begitu?” Tanya Guru Chong kebingungan.
“ Putri Bintang, bagaimana anda bisa berada disini. Bukankah anda telah meninggal ketika terjatuh di sungai?” tanyanya.
“ Maaf maksud anda apa? Aku tak mengerti. Namaku bukan bintang, tapi namaku Angkasa.” Kataku.
“ Bagaimana bisa aku melupakan wajah putri Bintang. Wajahnya yang berseri seperti bintang yang bersinar terang dan ketertarikannya dengan angkasa itu yang takkan bisa kulupakan.” Kata Pluto.
 “ kalau kau tak percaya masuklah. aku masih memiliki foto-foto putri Bintang dan aku saat bermain.” Pluto mengajakku masuk.
  “Dia adalah kau Bintang.” Kata Pluto.
                    Ketika aku melihat foto itu hanya ada sebagian yang aku ingat. Aku masih belum bisa percaya bahwa aku adalah putri kerajaan angkasa. Aku berlari meninggalkan mereka karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Aku berlari ke tepi sungai. Karena aku tak bisa melihat jalan dengan jelas karena mataku penuh air mata, aku terjatuh dan terbentur pohon yang besar.

***
 
“ Angkasa, bangun.” Aku seperti mengenal suara itu. Benar itu adalah suara guru Chong.
“ Kau baik-baik saja?” Tanya guru chong.
“ Ya, aku baik-baik saja guru.” Jawabku.
“ Apa kau sudah mengingat siapa dirimu?” tanyanya. Untuk beberapa saat aku terdiam dan mengingat sesuatu dan akhirnya aku ingat.         
“ Guru Chong, aku ingat siapa aku guru Chong. Namaku Bintang.” Kataku aku bersorak kegirangan karena dapat mengingatnya.
                   Akhirnya aku diantarkan Pluto kembali ke istana. Ayah dan ibuku sangat senang ketika aku kembali. Aku menceritakan semua tentang nenek dan guru Chong serta penduduk desa yang baik padaku. Ibuku menyuruhku untuk mengajak nenek tinggal di istana. Tapi, nenek tak mau karena dia lebih suka tinggal di gubuknya.

Minggu, 14 Agustus 2011

MAWAR DAN MELATI

“ Selamat pagi mawar!” Sapa bunga Matahari.
 “ Selamat pagi.” Balas bunga Mawar.
Pagi itu, seluruh penghuni padang bunga sedang pergembira karena pagi itu adalah pagi yang cerah. Para kupu-kupu mulai hinggap di bunga-bunga yang mengandung nektar. Terutama bunga mawar yang paling memikat. Selain wanginya, dia juga mengandung banyak nektar dan sangat cantik.
                Di tengah hutan yang masih pagi buta itu… “ Selamat pagi, Melati. Kau sudah bangun?” sapa bunga Sedap Malam.
“ Selamat pagi. Ya, aku sedang ingin bangun pagi. Sekarang kau beristirahat ya?” balas Melati.
“ Tentu saja. Aku sudah berjaga semalam. Aku beristirahat dulu ya.” Sedap malam pun tidur.
Embun membasahi bunga Melati dan membuat baunya menyebar kesemua penjuru hingga membangunkan para bunga yang masih tidur dan mereka saling menyapa. Cahaya matahari mulai menerobos melalui celah-celah pepohonan. Mereka menyabut matahari itu dengan gembira. Para kupu-kupu datang dan menghisap nektar mereka. Bunga melati yang paling memikat karena dia sangat cantik. Pepohonan dan rumput bergoyang karena ditiup angin. Burung-burung berkicau.
                Di padang bunga, “ Mawar, aku dengar ada sebuah bunga ditengah hutan yang katanya lebih cantik dan juga lebih wangi darimu.” Kata Lili. Dia selalu yang memulai pembicaraan di padang.
“Mana mungkin. Aku ‘kan yang lebih cantik di dunia ini. Tak ada yang bisa mengalahkanku.” Kata Mawar dengan nada yang angkuh. Sifat yang sesungguhnya sudah keluar.
                “ Aku mendengarkannya dari para burung yang terbang dari hutan. Mereka berkata ‘ pagi ini melati semakin cantik ya. Tak ada yang bisa menandinginya.’ Begitu kata burung-burung itu.” Lili semakin meyakinkan.
“ Kau tahu ‘kan burung-burung itu tak bisa diandalkan. Kita tahu yang bisa kita percaya hanyalah kupu-kupu. Coba kalau memang dia lebih baik dariku. Aku akan menemuinya.” Kata Mawar dengan marah. Dia tak suka jika ada bunga lain yang menandingi kecantikannya.
“ Tapi, bagaimana cara kau menemuinya. Kita kan tak bisa bergerak. Apalagi tempat ini jauh dari hutan. Jika kau merambat, itupun juga tak mungkin dilakukan.” Kata Kambodja.
                “ Semoga saja aku menemuinya.” Kata Mawar dan dia pun diam.
 Semuanya tahu kalau Mawar sedang marah tak bisa diganggu. Keesokan paginya, para kupu-kupu mendatangi padang bunga. hanya saja entah mengapa jumlahnya sedikit berkurang.
                “ Kemana kupu-kupu yang lain?” Tanya Mawar pada kupu-kupu yang sedang hinggap.
“ Oh yang lainnya pergi ke tengah hutan. Katanya disana banyak bunga yang mengandung madu. Apalagi bau mereka wangi dan juga baik hati. Terutama Melati. Dia adalah yang paling baik. Para burung sering memujinya dengan nyanyian. Bahkan dia juga sangat putih dan indah. Ya meskipun ukurannya lebih kecil darimu. Tapi, dia tak merasa direndahkan hanya karena ukuran. Sudah dulu ya, teman-temanku akan kesana.” Kupu-kupu itu pergi meninggalkan padang. Mawar semakin geram.
                Di tengah hutan, “ Melati, kenapa sekarang jumlah kupu-kupu semakin banyak ya? Darimana asal mereka. Kenapa aku tak mengenalnya?” Tanya Tulip.
 “ aku tak tahu.” Kata Melati.
“ Hei, sebelumnya aku belum pernah melihatmu dengan teman-temanmu yang lainnya. Kalian berasal darimana?” Tanya Melati.
“ Oh, kami berasal dari padang bunga. disini banyak sekali madu yang enak.” Kata kupu-kupu sambil terus menghisap.
                “ Bagaimana bunga-bunga yang berada disana?” Tanya Melati dengan sangat lembut.
“ Aku sedikit tidak suka dengan mereka. Mereka sangat suka menghina bunga ditempat lain. Bahkan mereka selalu mengejek burung dan tak mempercayai perkataan burung. Terutama Mawar. Dia sangat benci denganmu. Karena para burung pernah memujimu diatas padang. Bahkan Mawar sendiri bilang bahwa bagaimanapun juga dia pasti akan bertemu denganmu. Dan satu lagi. Sebenarnya dia juga cantik kok. Ukurannya lebih besar darimu. Berwarna merah, kelopaknya menumpuk dan yang tak aku suka adalah batangnya berduri.” Kata Kupu-kupu. Setelah mendapatkan cukup banyak nektar, kupu-kupu itu terbang kembali.
                Tiba-tiba saja mereka mendengar suara langkah kaki manusia. Mereka langsung terdiam. Lalu, “ Hei, itu dia bunga yang kita cari. Bunga yang sangat cantik. Putri Melati pasti sangat suka karena bunga ini juga nama Putri.” Seorang yang seperti pengawal mendekati Melati.
“ bunga ini kita ambil saja. Hati-hati mencabutnya. Jangan sapai ada akar yang tertinggal.” Seseorang temannya mencabutnya secara perlahan.
Lalu, Melati diletakkan di pot yang diisi dengan tanah yang biasa dia tempati. Teman-teman Melati menangis melihat kepergian melati. Para burung mengikutinya dari belakang dengan jarak yang sangat jauh.
                Lalu mereka mendatangi sebuah padang bunga yang sangat luas. Lalu tiba-tiba seorang pengawal yang tadi mendekati Melati berteriak.
“ Itu dia, bunga terindah yang sangat disukai oleh Putri Mawar. Bunga Mawar merah yang sangat cantik. Ayo kita cabut. Tetapi jangan sampai ada satu akar yang tertinggal dan hati-hati jangan sampai terkena durinya.”
 Dalam hati Melati ‘apakah dia yang dikatakan bunga yang terindah oleh para burung dan para kupu-kupu? Dia sangat cantik dan lebih cantik dariku.’
                Melati dan Mawar dibawa oleh orang yang sama. Lalu Melati mengajak berkenalan. “ Kenalkan, namaku Melati. Aku berasal dari tengah hutan.” Kata Melati dan tiba-tiba, “ Oh, jadi kamu yang sering dibilang cantik oleh para burung dan juga kupu-kupu. Ternyata kau ini lebih jelek dariku. Bagaimana bisa kau dibilang sangat cantik?” kata Mawar dengan angkuh.
                “ Para burung dan juga kupu-kupu sering menyanyikan lagu tentang kau dan aku. Mereka bahkan sering memujiku dan mengatakan bahwa kau lebih cantik dariku dan bahkan kau lebih wangi dariku. Hanya saja mereka mengatakan kau itu terlalu angkuh dan sombong. Maka dari itu mereka menjauhimu. Begitu.” Kata Melati.
Dia mengatakan semua yang dikatakan para kupu-kupu yang datang dari. Padang. Setelah itu. Mereka sampai di istana. Mereka diletakkan di kebun istana.
                “ oh. Itukah dia yang dikatakan ayah bahwa mirip denganku. Cantik sekali.” Dua orang putri mendekati Mawar dan Melati. Yang satu sudah pasti putri Melati karena langsug mendekati Melati dan yang satu lagi Mendekati Mawar dan itu sudah pasti putri Mawar.
               
“ Kedua bunga ni terlihat berteman ya, Sama seperti kita.” Kata Putri Melati.
“Iya, bunga Melati itu sama cantiknya dengan dirimu.” Kata Putr Mawar.
“Kakaklah yang lebih cantik. Sama dengan bunga itu.” Puji Melati pada kakaknya.
Mawar dan Melati berpikir, wajah mereka jauh berbeda. Ya meskipun sama-sama cantik, tapi putri Mawar sangat cantik. Dan putri Melati sering memuji putri Mawar. Mereka saling berpandangan. Mawar merasa malu karena pemiliknya saja yang sangat cantik sama seperti dirinya malah memuji adiknya yang tak terlalu cantik. Sementara adiknya juga selalu memuji kakaknya. Berbeda dengan mereka berdua. Melati selalu memuji Mawar dan Mawar malah selalu bertingkah angkuh. Akhirnya dia menetahui apa yang dimaksud dengan cantik oleh para kupu-kupu dan burng. Yaitu hatinya yang semakin cantik.
                Beberapa saat kemudian. Burung-burung menyanyi untuk Mawar dan Melati.
Ada sebuah kisah
Tentang dua kuntum bunga yang berbeda jauh
Mereka saling tak kenal
Yang satunya sangat baik dan yang lain sangat angkuh
Meeka bertemu ditempat yang sama
Akhirnya mereka bisa berteman
Semoga mereka mengingat teman mereka yang jauh disana
                Mawar dan Melati teringat dengan teman-temannya yang berada di hutan dan dipadang. Meskipun begitu, sekarang mereka sudah tidak bertengkar lagi dan bahkan mereka selalu bersama hingga akhir hayat mereka.