Kamis, 27 Oktober 2011

PENYESALANKU

“ Hai, Daniel!” Teriak seseorang dari kejauhan. Aku hanya diam saja. Lalu dia menghampiriku.
“ Kau sudah kerjakan PR Matematika?” Tanya orang yang tadi berteriak padaku.
“ Sudah. Kenapa? Mau menyonteknya lagi?” Tanyaku dengan menatapnya sinis.
“ Tidak. Aku tahu kalau kau pasti akan marah kalau aku menyontek lagi. Jadi, hari ini aku mengerjakan sendiri.” Jawabnya.
“ Pamer?” Jawabku.
“ Ya, begitulah. Semoga saja tidak ada yang salah.” Kata orang itu.
Kami berjalan menuju ruang kelas yang berada di lantai dua. Orang yang saat ini disebelahku adalah teman sebangkuku. Dia seorang gadis yang cerewet, bodoh, dan pemalas. Oleh sebab itu aku membenci wanita karena rata-rata sifatnya seperti itu. Itulah yang menyebabkanku hingga detik ini masih jomblo. Gadis cerewet ini bernama Emerald. Sama seperti warna matanya yang hijau Emerald.
Sesampainya di kelas aku hanya duduk sambil membaca komik kesukaanku. Sementara Emerald sudah pergi entah kemana. Dia memang susah disuruh duduk tenang. Kadang aku sering marah karena dia tak bisa diam sejenak.
“ HOOOIIII.” Teriak Emerald tepat di telinga kiriku hingga telingaku berdenyut dan terasa sakit.
“ Eme! Sakit. Kalau aku sampai tuli bagaimana?” Kataku. Aku sebenarnya ingin marah. Tetapi, suara yang keluar tetap saja suara datar.
“ Maaf. Sedari tadi aku memanggilmu, tetapi kau hanya membaca komikmu saja. Kalau baca komik jangan terlalu serius.” Kata Eme.
“ Sejak kapan kau memanggilku?” Tanyaku.
“ Dari tadi. Memang telingamu itu sudah tuli sebelum aku berteriak di telingamu!” Kata Eme.
“ Ada apa memanggilku?” Tanyaku.
“ Ada yang memberikan ini padamu.” Eme menyodorkan 4 kotak yang terbungkus dengan kertas kado.
“ Hari ini bukan ulang tahunku. Siapa yang memberikannya?” Tanyaku dengan heran sambil menerima benda-benda itu.
“ Siapa lagi kalau bukan para fansmu Dan.” Kata Eme sambil menyebut namaku dengan dibuat-buat.
Aku segera membuka 4 kotak yang ukurannya sedang. Ada yang memberiku coklat, komik, liontin yang berbentuk hati, dan jam tangan yang ada ukiran namaku dan sang pemberi hadiah itu. Lagi-lagi aku mendapatkan barang-barang yang tidak penting. Tapi, kalau komik sepertinya tak masalah.
Setelah aku menyimpan barang-barang itu di tas, aku melirik ke arah Eme. Aku kaget karena ekspresinya terlihat sedang marah. Aku teringat kata-kata ibuku, bahwa coklat dapat menenangkan perasaan. Aku kembali mengambil coklat pemberian fansku tadi dan menyodorkannya pada Eme.
“ Apa ini?” Tanya Eme. Dia terlihat kebingungan saat aku menyodorkan coklat itu.
“ Makan saja. Mubazir kalau tidak ada yang memakannya. Kata ibuku, coklat juga dapat menenangkan perasaan.” Jawabku. Lalu aku kembali membaca komikku.
Bel pun berbunyi tepat saat Eme baru memakan satu gigitan coklat itu. Dan pada saat itu juga guru masuk. Eme menyimpan coklatnya sambil menggerutu. Aku hanya tersenyum saat dia bertingkah seperti itu.
Selama pelajaran ini, Eme hanya diam dan memperhatikan guru. Biasanya, dia tak akan mendengarkan saat guru sedang menerangkan. Mungkin dia begini karena kemarin aku benar-benar marah pada Eme. Tapi, bukankah Eme biasanya juga tak mendengarkan perkataanku? Aku jadi bingung sendiri.
“ Daniel! Jangan melamun!” Teriak guruku. Aku kaget dan baru sadar bahwa dari tadi aku melamun saja. Aku menjadi malu sendiri. Eme melihatku lalu tertawa cekikikan. Wajahku memerah karena malu.
***
                Bel pulang telah berbunyi. Aku segera keluar karena aku benar-benar malu. Berkali-kali aku ditegur karena melamun. Benar-benar memalukan. Dan yang paling membuatku malu, Aku melamun saat melihat wajah Eme, dan tiba-tiba wajahku merona saat melihat Eme. Benar-benar memalukan. Ada apa aku ini? Hari ini benar-benar aneh.
***
                Hari ini, aku duduk sendirian. Eme tiba-tiba saja sakit. Aku berpikir mungkin akan sangat bahagia jika Eme tidak ada. Tapi, entah mengapa seperti ada yang kurang. Seperti aku kehilangan sesuatu. Akhir-akhir ini aku sering memikirkan Eme. Apakah aku menyukai Eme? Semoga saja tidak. Lebih baik, aku menanyakan hal ini kepada yang ahli. Yaitu Fadhil. Dia selalu ahli dalam urusan hati. Aku segera menghampiri Fadhil yang sedang menghabiskan makanannya sebelum bel usai istirahat berbunyi.
                “ Dhil, aku boleh curhat?” Tanyaku.
                “ Curhat? Tumben kau curhat padaku. Ada apa? Silakan saja.” Kata Fadhil sambil terus makan.
                “ Sepertinya aku menyukai seorang gadis.” Kataku, memulai curhatku.
                “ Uhuk… uhuk.” Tiba-tiba Fadhil terbatuk-batuk.
                “ Ada apa? Kau baik-baik saja?” Tanyaku. Fadhil segera meminum sirupnya dan menarik napas dalam-dalam.
                “ Apa aku tak salah mendengar? Kau menyukai seorang gadis? Yang kutahu kau selama ini tak suka dengan wanita kan?” Tanyanya.
                “ Itu yang kupermasalahkan. Aku tak tahu aku benar-benar menyukainya atau tidak. Tapi, aku berharap bahwa aku tak menyukai gadis ini.” Jawabku.
                “ Memang kenapa?” Tanyanya.
                “ Gadis ini benar-benar gadis yang menyebalkan. Tapi, saat dia tak ada, aku merasa kehilangan. Akhir-akhir ini aku selalu terbayang-bayang dia. Entah kenapa aku selalu memikirkannya. Apakah aku sedang gila?” Curhatku.
                “ Hahahaha. Kau benar-benar menyukai gadis itu. Mengapa kau tak mengungkapkannya pada gadis itu?” Tanya Fadhil.
                “ Kau gila! Aku baru saja menyukainya dan tiba-tiba mengatakannya. Aku tak mau. Aku akan meyakinkan hatiku dulu kalau dia memang benar-benar kusuka. Bahkan, kalau dia benar-benar kucintai.” Jawabku.
                “ Benar juga katamu. Tapi, sebaiknya kau segera mengatakannya. Dari pada nanti dia diambil orang lain.” Kata Fadhil.
                “ Jadi, menurutmu aku sedang jatuh cinta?” Tanyaku.
                “ Ya. Dan kau menyukai gadis itu.” Kata Fadhil.
                Aku segera meninggalkan Fadhil dan kembali ke bangkuku. Aku memikirkan kata-kata Fadhil. Kata-katanya memang tak ada yang salah. Ah, untuk apa aku harus mengatakannya pada Eme. Selama ini di mata Eme aku cuek dan tak pernah jatuh cinta, masa’ aku luluh pada dia. Bisa-bisa dia hanya menertawakanku.
                Sepertinya aku tak perlu mengatakannya pada Eme. Lebih baik kupendam saja dulu. Atau aku tunggu saja jika benar-benar ada kesempatan. Entah kapan kesempatan itu akan datang. Aku harus meyakinkan diriku bahwa Eme memang layak dihatiku.
***
                Setelah 3 hari Eme tak masuk, dia akhirnya masuk. Dia tetap ceria meskipun jika kulihat wajahnya pucat. Aku benar-benar merindukan Eme. Rasanya ingin kupeluk Eme saat dia duduk disampingku dengan celotehan panjang lebarnya yang tak karuan.
                Saat aku sedang membereskan barang-barangku untuk persiapan pulang. Eme memegang tanganku. Rasanya jantung ini hampir lepas saat dia memegangnya. Tapi, tangannya begitu dingin. Sepertinya dia masih sakit.
                “ Daniel, nanti kau main kerumahku ya.” Kata Eme.
                “ Untuk apa?” Tanyaku.
                “ Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku.” Jawabnya. Aku terdiam sesaat.
                “ Kumohon. Kau tak pernah kerumahku.” Kata Eme dengan wajah memelas. Aku baru teringat bahwa Eme pernah main kerumahku. Tapi, aku tak pernah kerumahnya.
                “ Baiklah.” Jawabku. Emeral tersenyum. Tapi, aku lihat mata Emeraldnya berkaca-kaca.
                Setelah kami keluar kelas, kami segera mengambil kendaraan dan menuju rumah Eme. Rumah Eme agak jauh dari sekolah. dia tinggal di kompleks perumahan besar. Rupanya, dia anak orang kaya. Rumahnya benar-benar besar dan indah.
                Saat masuk kedalam rumahnya, ternyata di ruang tamu sudah ada keluarga Eme. Aku benar-benar jadi malu. Semoga saja mereka tak melihat bahwa wajahku sudah merona.
                “ Ayah, ibu, kak Lita, Kak Luki, perkenalkan, dia Daniel. Orang yang kuceritakan pada kalian.” Kata Emerald memperkenalkanku pada mereka.
                “ Perkenalkan, saya Daniel.” Kataku sambil membungkuk. Entah kenapa aku jadi salah tingkah.
                “ Oh, ini yang namanya Daniel. Silakan duduk nak.” Kata ibu Eme.
                “ Terima kasih.” Aku duduk disamping Eme.
                “ Emerald sering sekali bercerita tentangmu. Rupanya kau laki-laki yang tampan ya.” Kata ibu Eme.
                “ Terima kasih Tante. Baru kali ini saya di puji.” Kataku.
                “ Bohong. Di sekolah kau sering dipuji gadis-gadis lain.” Kata Eme.
                “ Maksudku baru kali ini di puji ibumu.” Jawabku berusahak mengelak. Mereka hanya cekikikan.
                “ Ya sudahlah, kami tinggal dulu ya nak. Kami masih banyak urusan.” Kata Ayah Eme.
                “ Iya Om. Maaf mengganggu.” Jawabku. Mereka tersenyum padaku.
                Sesaat, suasana begitu hening. Aku dan Eme hanya saling diam dan duduk terpaku. Aku tak menyangka Eme menceritakan tentangku pada keluarganya. Mau ditaruh dimana mukaku ini? Aku benar-benar seperti tak karuan.
                “ Daniel, ada yang mau kukatakan padamu.” Kata Eme.
                “ Eh, apa yang mau kau katakana?” Aku tersadar dari lamunanku.
                “ Aku mencintaimu.” Kata Eme.
                Rasanya jantungku berhenti berdetak, nafasku serasa berhenti dan tubuhku kaku saat dia mengatakan hal itu. Aku juuga ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Tapi, sepertinya ini bukan waktunya aku mengatakan itu. Nanti saja aku katakana itu.
                “ Mengapa kau bilang seperti itu? Kau tak malu atau tak salah bicara?” Tanyaku.
                “ Tidak. Itu benar. Aku mencintaimu. Menurutku, lebih baik mengatakannya terlebih dulu, meskipun mungkin dia tak mencintaimu. Tapi, itu lebih baik daripada di pendam, dan akhirnya kau kehilangan kesempatan untuk mengatakannya.” Kata Eme. Aku teringat kata-kata Fadhil.
                “ Oh, begitu. Tapi, maaf. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku.” Jawabku bohong.
                “ Sudah kuduga. Tapi, aku akan tetap mencintaimu dan tetap menjadi sahabat terbaikmu.” Jawab Eme. Lalu, dia tersenyum.
                Lalu, beberapa saat kami saling diam lagi. Lebih baik aku pendam saja. Kapan-kapan saja aku katakana bahwa aku mencintainya. Eme menawarkan minum padaku, tapi aku menolaknya. Kami hanya mengobrol saja hingga akhirnya sudah waktunya aku pulang.
***
                Setelah kejadian itu, hubungan kami tak ada perubahan apapun. Seperti hari itu tak pernah terjadi. Aku juga lega karena tak ada yang menyadari bahwa kita saling suka. Lebih tepatnya dia juga tak mengetahui bahwa aku menyukainya. Tapi, hari ini aku mendapat kabar yang mengejutkan dari kakak Eme. Eme dalam keadaan sakit dan dibawa ke rumah sakit untuk opname. Dan Eme sempat mengigau menyebut namaku. Aku segera menjenguk Eme.
                Saat aku sampai disana, rupanya Eme sudah dalam keadaan koma. Kakak Eme menceritakan bahwa selama ini Eme memang sakit kanker. Tapi, dia berjuang melawannya. Dulu, dokter pernah mengatakan bahwa hidup Eme hanya sekitar 3 tahun. Tapi, dia berhasil melewati perkiraan dokter. Tapi, saat ini keadaan Eme sedang koma.
                Malam itu, aku menemani Eme sendirian. Aku terus berharap Eme membuka matanya dan kembali ceria, lalu aku akan mengatakan perasaanku. Aku terus menunggunya. Hingga tepat pukul 5 pagi, detak jantung Eme berhenti. Aku segera berteriak memanggil dokter.
                Semua berusaha menyelamatkan Eme, tapi gagal. Eme sudah meninggal. Aku menggenggam tangan Eme sambil menangis. Ku berbisik ditelinganya “aku mencintaimu. Maaf aku terlambat mengatakannya karena rasa gengsiku. Maaf kan aku. Aku benar-benar mencintaimu.”
                Aku benar-benar menyesal karena tak mengatakannya. Sekarang, aku sudah kehilangan cinta pertamaku. Selamat jalan Emerald, kau akan selalu kukenang hingga akhir waktu.

Selasa, 20 September 2011

JANJI


         Aku membuat cerita ini untuk mengenang cerita tentang kehidupanku yang sangat konyol. Aku akan memulainya saat aku masih kecil. Saat aku berumur 8 tahun. Kalian mau mengetahuinya? Inilah kisah hidupku. Selamat membaca !
***

Namaku Sun. Umurku 8 tahun.  Aku punya seorang teman yang sangat baik. Dia bernama Vina. Kami selalu bermain bersama. Kami pernah berjanji kami akan terus bersama. Jika kami berpisah,kami pasti akan bertemu. Itulah janji kami.
                7 tahun telah berlalu,kami juga masih bersama. Vina telah mempunyai kekasih. Meskipun telah mempunyai kekasih,tapi kami terus bersama. Hingga akhirnya pada bulan Juli aku pergi meninggalkan Vina karena aku pindah keluar kota. Vina mengatakan padaku bahwa aku harus berjanji jika aku telah mencapai cita-citaku aku akan menemui dia. Aku berjanji kepada Vina aku pasti akan bertemu dengannya.
                Di kota tempat aku tinggal sekarang,banyak sekali teman-teman yang baik padaku. Disana aku sangat senang sekali karena mempunyai banyak teman. Sudah 2 tahun aku berada disana. Aku sudah lupa dengan Vina. Bulan Maret tanggal 23 adalah hari ulang tahunku. Aku mendapatkan surat.
                Aku tak tahu surat itu dari siapa. Di belakang amplopnya ada nama pengirimnya yaitu Vina. “Siapa Vina itu,apakah aku mempunyai teman bernama Vina?” Tanyaku dalam hati. Aku membaca surat itu. Isi surat itu adalah:
To:my best friend
    Sun.
                Sun,apa kabar,lama kita tak jumpa. Kau sekarang tak memberi kabar sama sekali. Bagaimana kabarmu disana? Semoga kau baik-baik saja dan mempunyai banyak teman ya.. Oh ya k au berulang tahun ya. SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 17. SEMOGA KAU SEMAKIN BAIK,SEHAT DAN SUKSES SELALU. Sun,kau masih ingat dengan janji kita kan?! Apakah sekarang ini kau telah mencapai impianmu? Jika sudah cepatlah kembali Sun. Oh ya Sun apakah sekarang ini kau telah mempunyai pacar?
                Oh ya Sun,teman-teman disini juga merindukanmu. Jangan lupakan kami ya Sun. sekian dulu surat dariku. Tolong segera dibalas ya kalau kau sudah mendapatkan surat ini.
From your best friend
VINA

Aku masih bingung siapakah Vina itu. Aku bertanya pada ibu dan ayahku. “ Ayah,ibu. Apakah kalian mengenal anak yang bernama Vina?” Tanyaku.
“ Vina kan temanmu sendiri Sun. Masa’ kau lupa dengannya. Bukankah kau selalu bersama dengannya dan berjanji bahwa kau akan kembali jika kau telah mencapai cita-citamu?” Kata Ibu.
                “ Aku tak mengingat orang yang bernama Vina.” Aku masih berusaha mengingat.
“ Mana mungkin. Jika kau tak mengingatnya mengapa kau masih memakai kalung yang diberikan Vina untuk hadiah ulang tahunmu yang ke 15?” Kata ayah.

Aku melihat kalungku. Kalung itu memang ada ketika aku berumur 15 tahun. Tapi aku tak mengingat sama sekali siapa pemberinya. Lalu aku masuk kedalam kamarku dan mengingatnya. Aku juga membalas surat itu. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah sangat pagi. Tak seperti biasanya.
“ Hei  Sun. tak seperti biasanya kau berangkat pagi. Mimpi apa kau semalam?” Suara Beby mengagetkanku dari belakang membuyarkan lamunanku.
“ Eh Beby kau membuatku kaget saja. Aku hanya ingin berangkat pagi saja. Memangnya tak boleh?” Kataku.
“ Sepertinya ada yang kau pikirkan Sun? Ceritakan padaku Sun apa yang terjadi?” Tanya Beby.
                “ Kemarin aku mendapatkan surat. Surat itu dari Vina. Tapi,aku tak mengenal siapa itu Vina? Kata ibuku Vina adalah teman baikku. Bahkan kami telah membuat janji jika kau berhasil mencapai cita-citaku, maka aku akan menemuinya. Kata ibuku yang memberikan kalung ini adalah Vina.” Aku menunjukkan kalung itu pada Beby.
                “ Bukankah kalung itu yang selalu kau gunakan dan tak pernah kau lepas. Bahkan kau pernah mengatakan bahwa kalung itu yang menyimpan semua janjimu kepada seseorang. Aku juga tak tahu siapa yang kau maksud.” Kata Beby.
“ Apakah aku pernah berkata begitu?” Tanyaku.
 “ Tentu saja. Bukankah kalung itu pernah dicuri oleh preman dan kau berjuang mati-matian untuk mendapatkan kalung itu kembali?” Kata Beby.
                Aku diam saja. Selama pelajaran, aku tak berkonsentrasi dan ingin segera pulang untuk mengirim surat ini. Bel sekolah pun berbunyi. Aku segera pulang dan pergi ke kantor pos untuk mengirim surat itu menggunakan pos ekspres.  Jika menggunakan pos ekspres,dalam waktu sehari surat itu telah sampai kepada si penerima.

***
                Di tempat Vina,Vina sedang menyiram bunga di halaman. “Pos..Pos..” terdengar suara tukang pos. Vina segera berlari keluar dan mengambil surat dari pak pos. Vina segera masuk ke kamar dan membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:Vina

                Hai,kabarku baik-baik saja dan aku mempunyai banyak teman disini. Terima kasih untuk ucapan ulang tahunnya. Tapi,maafkan  aku tak mengenal anda. Bahkan aku tak mengingat janji apa yang pernah aku buat? Aku belum mempunyai kekasih. Maafkan aku jika perkataanku menyakiti hatimu. Tapi aku benar-benar tak tahu siapa kau. Sekian suratku.                                                                               From: Sun

 “ Apakah Sun memang benar-benar melupakanku? Aku kecewa sekali dengan dia. Dia tak pernah berbohong kepadaku. Tapi,mengapa Sun melupakanku?” Vina pun menangis. Seharian itu Vina menangis. Tapi dalam hati Vina dia berharap agar Sun mengingat semua.

                5 tahun kemudian, aku telah berhasil mencapai cita-citanya yaitu untuk menjadi seorang dokter. Vina pun juga telah mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang Pramugari. Pada saat aku masih berada di rumah sakit, Vina pergi ke rumah orang tua Sun.

“ Permisi. Apakah ini benar rumah Sun?” Tanya Vina.

           “ Oh ya benar. Silakan masuk.” Kata ibu Sun mempersilakan.
“ Maaf anda ini siapa dan ingin bertemu dengan siapa?”  Tanya ayah Sun.
 “ Nama saya Vina. Saya kesini ingin menanyakan sesuatu.” Kata Vina.
“ Kau Vina? Wah sekarang ini kau cantik sekali. Kau mau bertanya apa Vina?” Tanya Ayah Sun.
                “Aku ingin menanyakan apakah Sun melupakanku?” Tanya Vina.
“ Iya. Dia berusaha mengingat. Tapi dia tak mengingat apapun. Apakah kau sakit hati?” Tanya Ibu Sun.
 “ Oh tidak ada apa-apa. Apakah Sun telah menjadi seorang dokter?” Tanya Vina.
“ Ya.” Kata mereka berdua serempak.
“ Kalau begitu aku pamit pulang dulu.” Kata Vina.
                Keesokan harinya,Vina menulis surat dan menitipkan pada ibu Sun. malam harinya,pukul 9 malam aku pulang dengan keadaan sangat lelah.
“ Sun,tadi ada surat untukmu. Bacalah ini.” Kata ibu Sun memberikan surat itu kepadaku. Aku membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:my best friend
Sun.
Sun. Kemarin aku kerumahmu. Sekarang kau telah mencapi cita-citamu. Kini aku menagih janjimu Sun. Jika kau masih belum mengingatku ,bukalah kalungmu itu.
Cara membukanya kau katakanlah “ Janji untuk selamanya ”. Kau akan mengingat semuanya. Kalau kau telah mengingatku,temuilah aku di taman air mancur pukul 9.30 malam. Karena aku hanya bisa sampai jam 10.00 malam. Karena aku akan penerbangan malam ini.
From:your best friend
VINA


aku membuka kalungnya sesuai dengan perintah yang ada di surat, lalu keluarlah sebuah suara yang berbunyi:
“Vina kau adalah teman terbaikku. Aku takkan melupakanmu. Kita telah berjanji kita kan terus bersama dan jika kita berpisah,kita pasti kan bertemu kembali,kan Vina?”
 “Ya tentu saja. Aku juga takkan melupakan dirimu. Kita akan menepati janji kita. Kau juga jangan mengingkari janji kita.”
                Aku teringat akan suara itu. Itu adalah suaraku dan suara Vina ketika mereka akan berpisah. Aku segera melihat jam.  Jam telah menunjukkan pukul 9.50. Aku segera berangkat ke taman. Perjalanan dari rumah hingga ke taman membutuhkan waktu 5 menit lebih. Aku ingin sekali menemui Vina untuk menepati janjiku kepada Vina.
                Sampai di taman,tak ada siapapun disana. Hanya ada aku sendiri yang berada di taman. Aku mencari Vina. Tetapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku menangis di kursi taman. Aku menyesali kebodohanku karena telah melupakan Vina.
“ Mengapa aku bisa melupakan Vina. Padahal aku telah berjanji dengan dia. Aku memang bodoh. Mungkin Vina sekarang telah pergi. Bodohnya aku. Bodoh bodoh bodoh…” Aku benar-benar sangat menyesal.
                “Kau memang bodoh Sun.” Suara dari arah belakang mengagetkanku.
“Vina.” Aku sangat senang sekali bertemu dengan Vina. Aku segera menghampiri Vina dan  segera memeluk Vina karena sangat senang sekali.
“ Vina. Maafkan aku. Tapi,sekarang ini aku telah menepati janjiku.” Kataku dengan sangat senang.
” Sun aku juga sangat senang bertemu denganmu. Malam ini aku tak jadi ikut penerbangan karena temanku meminta untuk menggantikan posisiku.” Kata Vina.
`               Semalaman itu di taman, aku dan Vina saling bertukar cerita. Aku benar-benar sangat senang dapat kembali lagi dengan Vina. Malam itu juga adalah malam yang membuatku bahagia. Aku menjadi kekasih Vina.
                Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Aku benar-benar sangat bahagia hidup dengannya dan menjadi belahan jiwanya. Lalu, cerita ini akan selalu aku kenang karena ini adalah cerita tentang kebodohanku yang melupakan semua janjiku. Jangan ada yang meniruku ya! ;)

Rabu, 17 Agustus 2011

Bintang


               Ini adalah pengalaman yang pernah kulupakan. Cerita ini berawal saat aku sedang bermain dengan teman dekatku.

***
 
“ Bintang. Tunggu aku.” Teriak seseorang. Itu adalah suara yang aku kenal.
 “ Ayo Pluto kau harus bisa mengejarku!” aku terus berlari secepat mungkin menghindar dari Pluto tapi pandanganku terus menghadap ke arah Pluto..
“ Bintang, jangan kesana! Bintang lihatlah depanmu! Bintang!!!” Pluto berteriak sangat keras.
Aku tak tahu mengapa dia khawatir. Ketika aku melihat kedepan, ternyata ada sebuah sungai yang sangat besar. Aku tak bisa menghentikan lariku dan akhirnya aku terjatuh. Aku berusaha untuk berpegangan pada apapun. Hanya saja usahaku sia-sia. Lalu aku tak sadarkan diri.

***

 “ Nak, bangunlah nak.” Suara seseorang membangunkanku. Entah kenapa aku merasa aneh. Aku tak tahu siapa aku dan darimana aku.
 “ aku dimana? Siapa aku?” tanyaku pada orang itu. Ternyata orang itu adalah nenek-nenek yang sudah tua.
 “ Nak, kau hanyut di sungai tadi. Kalau aku perkirakan kau sudah terlalu lama mengapung di sungai. Karena bajumu sangat basah bahkan sudah mulai tumbuh jamur di bajumu. Namamu siapa nak?” Tanya nenek itu.
“ Aku tak tahu siapa aku.” Kataku. Aku berusaha mengingat siapa diriku.
 “ Mungkin karena terlalu banyak air yang masuk kepala tadi sehingga kau lupa. Sebaiknya kau tinggal saja disini sampai kau mengingat semuanya. Nenek akan buatkan kau teh hangat.” Nenek itu meninggalkanku.
                Aku melihat ada sebuah cermin di kamar itu. Aku berkaca dan aku melihat diriku sendiri. Aku terlihat sangat kotor. Mungkin benar apa kata nenek itu aku terlihat sudah terlalu lama mengapung di sungai. Kepalaku pun terasa berat rasanya hingga aku tak kuat dan aku membaringkan tubuhku perlahan.
  “ Ini teh hangatnya. Kau minum dulu.” Nenek itu menyodorkan segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap. Aku meminumnya perlahan. Rasanya sangat nyaan di tubuh dan kepalaku tak terlalu berat lagi.
“ Bagaimana sekarang keadaanmu. Kau baik-baik saja kan?” Tanya nenek.
“ ya rasanya kepalaku sedikit ringan. Nyaman sekali.” Kataku.
“Sebaiknya kau beristirahat dulu hingga keadaanmu pulih. Setelah itu kita cari tahu siapa kau.” Kata nenek itu lalu meninggalkanku.
                Aku hanya diam saja. Keesokan harinya keadaanku sudah membaik dan aku juga membantu nenek melakukan pekerjaannya. Nenek itu adalah seorang petani yang tinggal sendiri. Cucunya dan anaknya pergi ke negeri seberang untuk mencari pekerjaan. Sementara dia di tinggal sendirian di desa itu. Setiap malam aku selalu melihat kelangit. Mungkin saja disana ada namaku yang tertulis. Tapi itu mustahil. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan langit.
                Tetanggaku adalah seorang guru. Dia mengajarkanku tentang langit dan juga benda-benda angkasa. Seperti nama-nama planet, rasi bintang, revolusi dan rotasi. Aku sangat suka mempelajari semuanya. Akhirnya mereka memanggilku angkasa karena aku sangat suka tentang angkasa.
Suatu hari guru Chong bertanya padaku, “ Hei, Angkasa. Apa kau sudah menemukan namamu sendiri?”
 “ Belum guru. Aku masih belum tahu siapa aku. Tapi aku seperti tidak asing dengan nama Pluto. Seperti nama seseorang. Entah memang ada orang yang bernama Pluto atau tidak. Tapi aku masih tak terlalu yakin.” Kataku.
“ Kau tadi bilang orang yang bernama Pluto?” tanyanya.
“ Iya. Aku seperti mengenal nama itu, tapi aku tak tahu apakah memang ada orang yang bernama Pluto?” kataku.
“ Ada. Aku mengenalnya. Dia adalah temanku yang tinggal di kerajaan Angkasa. Dia adalah teman dekat putri kerajaan Angkasa. Mungkin kau masih ada hubungannya dengan Pluto. Bagaimana kalau besok kita pergi ke kerajaan Angkasa?” guru Chong memberi usul.
" Dimana kerajaan Angkasa itu? Memang ada kerajaan bernama Kerajaan Angkasa." Tanyaku.
" Letaknya jauh dari sini. Butuh berhari-hari untuk perjalanan kesana dengan berjalan kaki. Itu kerajaan besar yang terkenal. Apalagi kerajaan Pluto memiliki putri semata wayang yang cantik dan baik hati." Kata guru chong
 “ tapi, nanti bagaimana dengan nenek? Aku tak tega kalau meninggalkannya. Kan nenek sendirian.”
“ nenek itu adalah orang yang kuat. Bahkan sebelum kau ada disini dia sudah bisa menghidupi dirinya. Apalagi ketika kau datang, hidupnya lebih dari cukup.” Kata Guru Chong.
“ baiklah. Malam ini aku akan minta izin pada nenek.” Kataku. 
                     Lalu aku pulang dan segera memberi tahu pada nenek bahwa aku akan pergi dengan guru Chong. Untunglah nenek mengizinkanku pergi dengan guru chong. Keesokan harinya aku pergi meninggalkan nenek. Selama 5 hari kami melakukan perjalanan. Akhirnya kami sampai juga di kerajaan Angkasa. Kami langsung pergi ke rumah Pluto. Ketika sampai, guru Chong dan Pluto itu melepas rindu.
 “ Pluto, sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya guru Chong.
“ aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu disana Chong. Apa kau masih menjadi seorang guru?” Tanya Pluto.
“ Tentu saja. Itu sudah cita-citaku sejak dulu. Oh ya Pluto kenalkan ini temanku namanya Angkasa. Dia amnesia. Sampai saat ini dia belum ingat siapa nama aslinya dan asalnya.” Guru Chong memperkenalkanku pada orang yang bernama Pluto itu. Aku berjabatan tangan dengannya. Dia sangat kaget pada saat berjabat tangan denganku, seperti melihat hantu saja. 
 “ Hei Pluto, mengapa wajahmu seperti ketakutan begitu?” Tanya Guru Chong kebingungan.
“ Putri Bintang, bagaimana anda bisa berada disini. Bukankah anda telah meninggal ketika terjatuh di sungai?” tanyanya.
“ Maaf maksud anda apa? Aku tak mengerti. Namaku bukan bintang, tapi namaku Angkasa.” Kataku.
“ Bagaimana bisa aku melupakan wajah putri Bintang. Wajahnya yang berseri seperti bintang yang bersinar terang dan ketertarikannya dengan angkasa itu yang takkan bisa kulupakan.” Kata Pluto.
 “ kalau kau tak percaya masuklah. aku masih memiliki foto-foto putri Bintang dan aku saat bermain.” Pluto mengajakku masuk.
  “Dia adalah kau Bintang.” Kata Pluto.
                    Ketika aku melihat foto itu hanya ada sebagian yang aku ingat. Aku masih belum bisa percaya bahwa aku adalah putri kerajaan angkasa. Aku berlari meninggalkan mereka karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Aku berlari ke tepi sungai. Karena aku tak bisa melihat jalan dengan jelas karena mataku penuh air mata, aku terjatuh dan terbentur pohon yang besar.

***
 
“ Angkasa, bangun.” Aku seperti mengenal suara itu. Benar itu adalah suara guru Chong.
“ Kau baik-baik saja?” Tanya guru chong.
“ Ya, aku baik-baik saja guru.” Jawabku.
“ Apa kau sudah mengingat siapa dirimu?” tanyanya. Untuk beberapa saat aku terdiam dan mengingat sesuatu dan akhirnya aku ingat.         
“ Guru Chong, aku ingat siapa aku guru Chong. Namaku Bintang.” Kataku aku bersorak kegirangan karena dapat mengingatnya.
                   Akhirnya aku diantarkan Pluto kembali ke istana. Ayah dan ibuku sangat senang ketika aku kembali. Aku menceritakan semua tentang nenek dan guru Chong serta penduduk desa yang baik padaku. Ibuku menyuruhku untuk mengajak nenek tinggal di istana. Tapi, nenek tak mau karena dia lebih suka tinggal di gubuknya.