Sabtu, 31 Desember 2011

PERI KABUT PAGI


Di muka bumi, setiap pagi hari selalu muncul kabut pagi. Dibalik kabut pagi itu, ada beberapa peri yang bertugas mengeluarkan kabut pagi itu. Para peri itu diberi sebutan dengan peri Kabut Pagi. Suatu hari mereka seperti biasa mengeluarkan kabut mereka. Tapi, pagi itu Ratu peri menyuruh meeka membuat kabut pagi yang tebal. Lalu,mereka mendengar ada 3 orang anak yang sedang berolahraga pada pagi hari. Karena masih terlalu pagi dan kabut yang sangat tebal salah satu diantara mereka tidak melihat adanya batu yang sangat besar.
“Aduh sakit sekali. Apa ini?” Anak pertama itu mengambil batu besar itu dan membuangnya.
“Gara-gara kabut pagi ini yang sangat tebal membuat kita menjadi rugi. Jika setiap pagi kita selalu seperti ini pasti kita akan terluka terus menerus.” Kata anak kedua.
“ Menurut cerita yang aku dengar, yang membuat kabut ini adalah peri Kabut Pagi.” Kata anak ketiga.
                “Oh begitu, kalau aku bisa melihat peri-peri itu, maka akan aku peringatkan kepada mereka agar tidak membuat kabut lagi dan jika mereka saat ini mendengar kata-kataku maka mereka harus menghentikan untuk membuat kabut pagi!” Kata anak pertama denagan nada marah. Ketiga bersaudara itu pun pulang.
                “ Kurang ajar sekali mereka. Kita kan sudah susah payah membuat kabut ini mereka malah menghina. Bagaimana ini ketua? Apakah kita akan menuruti kehendak mereka?” Tanya para peri Kabut Pagi kepada ketua mereka.
“ Jika kita tidak melaksanakan pekerjaan kita, Ratu pasti akan marah. Tapi, Ratu juga sudah pernah bilang kepada para peri agar membuat orang-orang di bumi bahagia. Jadi menurut kalian bagaimana?” Kata ketua dengan bimbang.
                “ Bagaimana kalau kita berpura-pura saja jika kita telah membuat kabut pagi dan jangan sampai ketahuan oleh Ratu.” Kata Peri Putih salah satu dari Peri Kabut.
 “ Tapi, setelah kita membuat kabut dipagi hari, bukankah tugas Peri Pagi untuk menyapa semua makhluk yang ada di bumi. Peri Pagi hanya keluar jika kabut sudah muncul dan mulai ada cahaya yang menerobos kabut, kan?” Kata Peri Nila.
                “ Itu mudah saja. Kita bangunkan peri pagi sesuai jadwal jika dia bangun, kalau dia bertanya mengapa tak ada kabut kita bilang saja bahwa kabutnya sudah lama hilang dan peri pagi agak kesiangan.” Kata peri hitam.
“ Pintar juga kau. Jadi mulai besok kita tak akan membuat kabut, semuanya setuju?” Tanya Ketua Peri Kabut Pagi.
“SETUJU” Kata mereka dengan serempak.
                Sejak saat itu mereka tak pernah membuat kabut pagi lagi. Sebulan telah berlalu. Mereka masih belum melakukan pekerjaan mereka. Lalu mereka dipanggil oleh Ratu peri.
“ Ada apa Ratu peri? Mengapa anda memanggil kami?” Tanya ketua.
“Apa kalian telah mengerjakan tugas kalian?” Tanya Ratu peri dengan lembut.
                “ Sudah Ratu peri. ” Ucap mereka.
“ Mengapa kalian berbohong padaku? Sebenarnya kalian tak pernah melaksanakan tugas kalian dan membohongi peri pagi, kan?” Kata Ratu peri membuat para Peri kabut pagi itu keheranan.
“ Bagaimana anda tahu jika kami tidak pernah melaksanakan tugas kami? Apakah para Peri Malam yang memberi tahu anda?” Tanya para Peri Kabut Pagi.
“ Bukan. Peri Malam tak pernah mengatakan apapun padaku jika masa tugasnya telah berakhir. Aku tahu Itu semua karena sayap kalian terlihat kotor sekali.” Kata Ratu.
Para Peri Kabut Pagi melihat sayap mereka. Sayap mereka memang sangat kotor. Mereka tak tahu mengapa sayap mereka kotor. Selama ini sayap mereka tak pernah sekotor itu.
“ Kalian pasti heran mengapa sayap kalian bisa sekotor itu. Itu karena kalian tak pernah tersentuh oleh embun pagi yang muncul karena kabut pagi. Sama seperti peri hujan. Jika ia tak melaksanakan tugasnya sayapnya pasti akan kotor karena tak pernah terkena air hujan. Apakah kalian tahu sebenarnya apakah fungsi kalian untuk membuat kabut pagi? Kabut pagi membuat udara akan sejuk. Selama ini manusia mempunyai gas yang sangat kotor sekali. Pada pagi hari, itu waktu yang tepat untuk membersihkan udara kotor itu. Karena itu juga waktu yang sangat nyaman untuk para manusia berolahraga karena mereka menghirup udara yang bersih. Jika kalian amati saat ini, bumi sangatlah panas dan banyak sekali kotoran di udara karena kalian tak membuat kabut pagi. Sekarang apakah kalian telah mengerti betapa pentingnya kabut pagi bagi kehidupan manusia? Jika ada yang menghina kalian, jangan hiraukan perkataan mereka. Yang penting kalian tak membuat dunia menjadi rusak. Mulai besok lakukan tugas kalian!” Kata Ratu peri.
“ Baik. Kami akan laksanakan tugas ini sebaik mungkin.” Kata para peri itu dengan semangat.
Kini mereka telah mengerti apa alasannya mereka membuat kabut pagi. Mereka akan berusaha agar membuat kabut yang berguna bagi masyarakat jika saja pohon di dunia ini masih banyak. Sebaiknya kalian melakukan reboisasi agar  kabut bisa terlihat dengan jelas. Mungkin saja jika kalian melihat kabut pagi kalian bisa melihat para peri kabut pagi itu dan juga peri pagi yang selalu membantu mereka dan mendatangi mereka yang peduli akan lingkungannya.

Kamis, 27 Oktober 2011

PENYESALANKU

“ Hai, Daniel!” Teriak seseorang dari kejauhan. Aku hanya diam saja. Lalu dia menghampiriku.
“ Kau sudah kerjakan PR Matematika?” Tanya orang yang tadi berteriak padaku.
“ Sudah. Kenapa? Mau menyonteknya lagi?” Tanyaku dengan menatapnya sinis.
“ Tidak. Aku tahu kalau kau pasti akan marah kalau aku menyontek lagi. Jadi, hari ini aku mengerjakan sendiri.” Jawabnya.
“ Pamer?” Jawabku.
“ Ya, begitulah. Semoga saja tidak ada yang salah.” Kata orang itu.
Kami berjalan menuju ruang kelas yang berada di lantai dua. Orang yang saat ini disebelahku adalah teman sebangkuku. Dia seorang gadis yang cerewet, bodoh, dan pemalas. Oleh sebab itu aku membenci wanita karena rata-rata sifatnya seperti itu. Itulah yang menyebabkanku hingga detik ini masih jomblo. Gadis cerewet ini bernama Emerald. Sama seperti warna matanya yang hijau Emerald.
Sesampainya di kelas aku hanya duduk sambil membaca komik kesukaanku. Sementara Emerald sudah pergi entah kemana. Dia memang susah disuruh duduk tenang. Kadang aku sering marah karena dia tak bisa diam sejenak.
“ HOOOIIII.” Teriak Emerald tepat di telinga kiriku hingga telingaku berdenyut dan terasa sakit.
“ Eme! Sakit. Kalau aku sampai tuli bagaimana?” Kataku. Aku sebenarnya ingin marah. Tetapi, suara yang keluar tetap saja suara datar.
“ Maaf. Sedari tadi aku memanggilmu, tetapi kau hanya membaca komikmu saja. Kalau baca komik jangan terlalu serius.” Kata Eme.
“ Sejak kapan kau memanggilku?” Tanyaku.
“ Dari tadi. Memang telingamu itu sudah tuli sebelum aku berteriak di telingamu!” Kata Eme.
“ Ada apa memanggilku?” Tanyaku.
“ Ada yang memberikan ini padamu.” Eme menyodorkan 4 kotak yang terbungkus dengan kertas kado.
“ Hari ini bukan ulang tahunku. Siapa yang memberikannya?” Tanyaku dengan heran sambil menerima benda-benda itu.
“ Siapa lagi kalau bukan para fansmu Dan.” Kata Eme sambil menyebut namaku dengan dibuat-buat.
Aku segera membuka 4 kotak yang ukurannya sedang. Ada yang memberiku coklat, komik, liontin yang berbentuk hati, dan jam tangan yang ada ukiran namaku dan sang pemberi hadiah itu. Lagi-lagi aku mendapatkan barang-barang yang tidak penting. Tapi, kalau komik sepertinya tak masalah.
Setelah aku menyimpan barang-barang itu di tas, aku melirik ke arah Eme. Aku kaget karena ekspresinya terlihat sedang marah. Aku teringat kata-kata ibuku, bahwa coklat dapat menenangkan perasaan. Aku kembali mengambil coklat pemberian fansku tadi dan menyodorkannya pada Eme.
“ Apa ini?” Tanya Eme. Dia terlihat kebingungan saat aku menyodorkan coklat itu.
“ Makan saja. Mubazir kalau tidak ada yang memakannya. Kata ibuku, coklat juga dapat menenangkan perasaan.” Jawabku. Lalu aku kembali membaca komikku.
Bel pun berbunyi tepat saat Eme baru memakan satu gigitan coklat itu. Dan pada saat itu juga guru masuk. Eme menyimpan coklatnya sambil menggerutu. Aku hanya tersenyum saat dia bertingkah seperti itu.
Selama pelajaran ini, Eme hanya diam dan memperhatikan guru. Biasanya, dia tak akan mendengarkan saat guru sedang menerangkan. Mungkin dia begini karena kemarin aku benar-benar marah pada Eme. Tapi, bukankah Eme biasanya juga tak mendengarkan perkataanku? Aku jadi bingung sendiri.
“ Daniel! Jangan melamun!” Teriak guruku. Aku kaget dan baru sadar bahwa dari tadi aku melamun saja. Aku menjadi malu sendiri. Eme melihatku lalu tertawa cekikikan. Wajahku memerah karena malu.
***
                Bel pulang telah berbunyi. Aku segera keluar karena aku benar-benar malu. Berkali-kali aku ditegur karena melamun. Benar-benar memalukan. Dan yang paling membuatku malu, Aku melamun saat melihat wajah Eme, dan tiba-tiba wajahku merona saat melihat Eme. Benar-benar memalukan. Ada apa aku ini? Hari ini benar-benar aneh.
***
                Hari ini, aku duduk sendirian. Eme tiba-tiba saja sakit. Aku berpikir mungkin akan sangat bahagia jika Eme tidak ada. Tapi, entah mengapa seperti ada yang kurang. Seperti aku kehilangan sesuatu. Akhir-akhir ini aku sering memikirkan Eme. Apakah aku menyukai Eme? Semoga saja tidak. Lebih baik, aku menanyakan hal ini kepada yang ahli. Yaitu Fadhil. Dia selalu ahli dalam urusan hati. Aku segera menghampiri Fadhil yang sedang menghabiskan makanannya sebelum bel usai istirahat berbunyi.
                “ Dhil, aku boleh curhat?” Tanyaku.
                “ Curhat? Tumben kau curhat padaku. Ada apa? Silakan saja.” Kata Fadhil sambil terus makan.
                “ Sepertinya aku menyukai seorang gadis.” Kataku, memulai curhatku.
                “ Uhuk… uhuk.” Tiba-tiba Fadhil terbatuk-batuk.
                “ Ada apa? Kau baik-baik saja?” Tanyaku. Fadhil segera meminum sirupnya dan menarik napas dalam-dalam.
                “ Apa aku tak salah mendengar? Kau menyukai seorang gadis? Yang kutahu kau selama ini tak suka dengan wanita kan?” Tanyanya.
                “ Itu yang kupermasalahkan. Aku tak tahu aku benar-benar menyukainya atau tidak. Tapi, aku berharap bahwa aku tak menyukai gadis ini.” Jawabku.
                “ Memang kenapa?” Tanyanya.
                “ Gadis ini benar-benar gadis yang menyebalkan. Tapi, saat dia tak ada, aku merasa kehilangan. Akhir-akhir ini aku selalu terbayang-bayang dia. Entah kenapa aku selalu memikirkannya. Apakah aku sedang gila?” Curhatku.
                “ Hahahaha. Kau benar-benar menyukai gadis itu. Mengapa kau tak mengungkapkannya pada gadis itu?” Tanya Fadhil.
                “ Kau gila! Aku baru saja menyukainya dan tiba-tiba mengatakannya. Aku tak mau. Aku akan meyakinkan hatiku dulu kalau dia memang benar-benar kusuka. Bahkan, kalau dia benar-benar kucintai.” Jawabku.
                “ Benar juga katamu. Tapi, sebaiknya kau segera mengatakannya. Dari pada nanti dia diambil orang lain.” Kata Fadhil.
                “ Jadi, menurutmu aku sedang jatuh cinta?” Tanyaku.
                “ Ya. Dan kau menyukai gadis itu.” Kata Fadhil.
                Aku segera meninggalkan Fadhil dan kembali ke bangkuku. Aku memikirkan kata-kata Fadhil. Kata-katanya memang tak ada yang salah. Ah, untuk apa aku harus mengatakannya pada Eme. Selama ini di mata Eme aku cuek dan tak pernah jatuh cinta, masa’ aku luluh pada dia. Bisa-bisa dia hanya menertawakanku.
                Sepertinya aku tak perlu mengatakannya pada Eme. Lebih baik kupendam saja dulu. Atau aku tunggu saja jika benar-benar ada kesempatan. Entah kapan kesempatan itu akan datang. Aku harus meyakinkan diriku bahwa Eme memang layak dihatiku.
***
                Setelah 3 hari Eme tak masuk, dia akhirnya masuk. Dia tetap ceria meskipun jika kulihat wajahnya pucat. Aku benar-benar merindukan Eme. Rasanya ingin kupeluk Eme saat dia duduk disampingku dengan celotehan panjang lebarnya yang tak karuan.
                Saat aku sedang membereskan barang-barangku untuk persiapan pulang. Eme memegang tanganku. Rasanya jantung ini hampir lepas saat dia memegangnya. Tapi, tangannya begitu dingin. Sepertinya dia masih sakit.
                “ Daniel, nanti kau main kerumahku ya.” Kata Eme.
                “ Untuk apa?” Tanyaku.
                “ Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku.” Jawabnya. Aku terdiam sesaat.
                “ Kumohon. Kau tak pernah kerumahku.” Kata Eme dengan wajah memelas. Aku baru teringat bahwa Eme pernah main kerumahku. Tapi, aku tak pernah kerumahnya.
                “ Baiklah.” Jawabku. Emeral tersenyum. Tapi, aku lihat mata Emeraldnya berkaca-kaca.
                Setelah kami keluar kelas, kami segera mengambil kendaraan dan menuju rumah Eme. Rumah Eme agak jauh dari sekolah. dia tinggal di kompleks perumahan besar. Rupanya, dia anak orang kaya. Rumahnya benar-benar besar dan indah.
                Saat masuk kedalam rumahnya, ternyata di ruang tamu sudah ada keluarga Eme. Aku benar-benar jadi malu. Semoga saja mereka tak melihat bahwa wajahku sudah merona.
                “ Ayah, ibu, kak Lita, Kak Luki, perkenalkan, dia Daniel. Orang yang kuceritakan pada kalian.” Kata Emerald memperkenalkanku pada mereka.
                “ Perkenalkan, saya Daniel.” Kataku sambil membungkuk. Entah kenapa aku jadi salah tingkah.
                “ Oh, ini yang namanya Daniel. Silakan duduk nak.” Kata ibu Eme.
                “ Terima kasih.” Aku duduk disamping Eme.
                “ Emerald sering sekali bercerita tentangmu. Rupanya kau laki-laki yang tampan ya.” Kata ibu Eme.
                “ Terima kasih Tante. Baru kali ini saya di puji.” Kataku.
                “ Bohong. Di sekolah kau sering dipuji gadis-gadis lain.” Kata Eme.
                “ Maksudku baru kali ini di puji ibumu.” Jawabku berusahak mengelak. Mereka hanya cekikikan.
                “ Ya sudahlah, kami tinggal dulu ya nak. Kami masih banyak urusan.” Kata Ayah Eme.
                “ Iya Om. Maaf mengganggu.” Jawabku. Mereka tersenyum padaku.
                Sesaat, suasana begitu hening. Aku dan Eme hanya saling diam dan duduk terpaku. Aku tak menyangka Eme menceritakan tentangku pada keluarganya. Mau ditaruh dimana mukaku ini? Aku benar-benar seperti tak karuan.
                “ Daniel, ada yang mau kukatakan padamu.” Kata Eme.
                “ Eh, apa yang mau kau katakana?” Aku tersadar dari lamunanku.
                “ Aku mencintaimu.” Kata Eme.
                Rasanya jantungku berhenti berdetak, nafasku serasa berhenti dan tubuhku kaku saat dia mengatakan hal itu. Aku juuga ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Tapi, sepertinya ini bukan waktunya aku mengatakan itu. Nanti saja aku katakana itu.
                “ Mengapa kau bilang seperti itu? Kau tak malu atau tak salah bicara?” Tanyaku.
                “ Tidak. Itu benar. Aku mencintaimu. Menurutku, lebih baik mengatakannya terlebih dulu, meskipun mungkin dia tak mencintaimu. Tapi, itu lebih baik daripada di pendam, dan akhirnya kau kehilangan kesempatan untuk mengatakannya.” Kata Eme. Aku teringat kata-kata Fadhil.
                “ Oh, begitu. Tapi, maaf. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku.” Jawabku bohong.
                “ Sudah kuduga. Tapi, aku akan tetap mencintaimu dan tetap menjadi sahabat terbaikmu.” Jawab Eme. Lalu, dia tersenyum.
                Lalu, beberapa saat kami saling diam lagi. Lebih baik aku pendam saja. Kapan-kapan saja aku katakana bahwa aku mencintainya. Eme menawarkan minum padaku, tapi aku menolaknya. Kami hanya mengobrol saja hingga akhirnya sudah waktunya aku pulang.
***
                Setelah kejadian itu, hubungan kami tak ada perubahan apapun. Seperti hari itu tak pernah terjadi. Aku juga lega karena tak ada yang menyadari bahwa kita saling suka. Lebih tepatnya dia juga tak mengetahui bahwa aku menyukainya. Tapi, hari ini aku mendapat kabar yang mengejutkan dari kakak Eme. Eme dalam keadaan sakit dan dibawa ke rumah sakit untuk opname. Dan Eme sempat mengigau menyebut namaku. Aku segera menjenguk Eme.
                Saat aku sampai disana, rupanya Eme sudah dalam keadaan koma. Kakak Eme menceritakan bahwa selama ini Eme memang sakit kanker. Tapi, dia berjuang melawannya. Dulu, dokter pernah mengatakan bahwa hidup Eme hanya sekitar 3 tahun. Tapi, dia berhasil melewati perkiraan dokter. Tapi, saat ini keadaan Eme sedang koma.
                Malam itu, aku menemani Eme sendirian. Aku terus berharap Eme membuka matanya dan kembali ceria, lalu aku akan mengatakan perasaanku. Aku terus menunggunya. Hingga tepat pukul 5 pagi, detak jantung Eme berhenti. Aku segera berteriak memanggil dokter.
                Semua berusaha menyelamatkan Eme, tapi gagal. Eme sudah meninggal. Aku menggenggam tangan Eme sambil menangis. Ku berbisik ditelinganya “aku mencintaimu. Maaf aku terlambat mengatakannya karena rasa gengsiku. Maaf kan aku. Aku benar-benar mencintaimu.”
                Aku benar-benar menyesal karena tak mengatakannya. Sekarang, aku sudah kehilangan cinta pertamaku. Selamat jalan Emerald, kau akan selalu kukenang hingga akhir waktu.

Selasa, 20 September 2011

JANJI


         Aku membuat cerita ini untuk mengenang cerita tentang kehidupanku yang sangat konyol. Aku akan memulainya saat aku masih kecil. Saat aku berumur 8 tahun. Kalian mau mengetahuinya? Inilah kisah hidupku. Selamat membaca !
***

Namaku Sun. Umurku 8 tahun.  Aku punya seorang teman yang sangat baik. Dia bernama Vina. Kami selalu bermain bersama. Kami pernah berjanji kami akan terus bersama. Jika kami berpisah,kami pasti akan bertemu. Itulah janji kami.
                7 tahun telah berlalu,kami juga masih bersama. Vina telah mempunyai kekasih. Meskipun telah mempunyai kekasih,tapi kami terus bersama. Hingga akhirnya pada bulan Juli aku pergi meninggalkan Vina karena aku pindah keluar kota. Vina mengatakan padaku bahwa aku harus berjanji jika aku telah mencapai cita-citaku aku akan menemui dia. Aku berjanji kepada Vina aku pasti akan bertemu dengannya.
                Di kota tempat aku tinggal sekarang,banyak sekali teman-teman yang baik padaku. Disana aku sangat senang sekali karena mempunyai banyak teman. Sudah 2 tahun aku berada disana. Aku sudah lupa dengan Vina. Bulan Maret tanggal 23 adalah hari ulang tahunku. Aku mendapatkan surat.
                Aku tak tahu surat itu dari siapa. Di belakang amplopnya ada nama pengirimnya yaitu Vina. “Siapa Vina itu,apakah aku mempunyai teman bernama Vina?” Tanyaku dalam hati. Aku membaca surat itu. Isi surat itu adalah:
To:my best friend
    Sun.
                Sun,apa kabar,lama kita tak jumpa. Kau sekarang tak memberi kabar sama sekali. Bagaimana kabarmu disana? Semoga kau baik-baik saja dan mempunyai banyak teman ya.. Oh ya k au berulang tahun ya. SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 17. SEMOGA KAU SEMAKIN BAIK,SEHAT DAN SUKSES SELALU. Sun,kau masih ingat dengan janji kita kan?! Apakah sekarang ini kau telah mencapai impianmu? Jika sudah cepatlah kembali Sun. Oh ya Sun apakah sekarang ini kau telah mempunyai pacar?
                Oh ya Sun,teman-teman disini juga merindukanmu. Jangan lupakan kami ya Sun. sekian dulu surat dariku. Tolong segera dibalas ya kalau kau sudah mendapatkan surat ini.
From your best friend
VINA

Aku masih bingung siapakah Vina itu. Aku bertanya pada ibu dan ayahku. “ Ayah,ibu. Apakah kalian mengenal anak yang bernama Vina?” Tanyaku.
“ Vina kan temanmu sendiri Sun. Masa’ kau lupa dengannya. Bukankah kau selalu bersama dengannya dan berjanji bahwa kau akan kembali jika kau telah mencapai cita-citamu?” Kata Ibu.
                “ Aku tak mengingat orang yang bernama Vina.” Aku masih berusaha mengingat.
“ Mana mungkin. Jika kau tak mengingatnya mengapa kau masih memakai kalung yang diberikan Vina untuk hadiah ulang tahunmu yang ke 15?” Kata ayah.

Aku melihat kalungku. Kalung itu memang ada ketika aku berumur 15 tahun. Tapi aku tak mengingat sama sekali siapa pemberinya. Lalu aku masuk kedalam kamarku dan mengingatnya. Aku juga membalas surat itu. Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah sangat pagi. Tak seperti biasanya.
“ Hei  Sun. tak seperti biasanya kau berangkat pagi. Mimpi apa kau semalam?” Suara Beby mengagetkanku dari belakang membuyarkan lamunanku.
“ Eh Beby kau membuatku kaget saja. Aku hanya ingin berangkat pagi saja. Memangnya tak boleh?” Kataku.
“ Sepertinya ada yang kau pikirkan Sun? Ceritakan padaku Sun apa yang terjadi?” Tanya Beby.
                “ Kemarin aku mendapatkan surat. Surat itu dari Vina. Tapi,aku tak mengenal siapa itu Vina? Kata ibuku Vina adalah teman baikku. Bahkan kami telah membuat janji jika kau berhasil mencapai cita-citaku, maka aku akan menemuinya. Kata ibuku yang memberikan kalung ini adalah Vina.” Aku menunjukkan kalung itu pada Beby.
                “ Bukankah kalung itu yang selalu kau gunakan dan tak pernah kau lepas. Bahkan kau pernah mengatakan bahwa kalung itu yang menyimpan semua janjimu kepada seseorang. Aku juga tak tahu siapa yang kau maksud.” Kata Beby.
“ Apakah aku pernah berkata begitu?” Tanyaku.
 “ Tentu saja. Bukankah kalung itu pernah dicuri oleh preman dan kau berjuang mati-matian untuk mendapatkan kalung itu kembali?” Kata Beby.
                Aku diam saja. Selama pelajaran, aku tak berkonsentrasi dan ingin segera pulang untuk mengirim surat ini. Bel sekolah pun berbunyi. Aku segera pulang dan pergi ke kantor pos untuk mengirim surat itu menggunakan pos ekspres.  Jika menggunakan pos ekspres,dalam waktu sehari surat itu telah sampai kepada si penerima.

***
                Di tempat Vina,Vina sedang menyiram bunga di halaman. “Pos..Pos..” terdengar suara tukang pos. Vina segera berlari keluar dan mengambil surat dari pak pos. Vina segera masuk ke kamar dan membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:Vina

                Hai,kabarku baik-baik saja dan aku mempunyai banyak teman disini. Terima kasih untuk ucapan ulang tahunnya. Tapi,maafkan  aku tak mengenal anda. Bahkan aku tak mengingat janji apa yang pernah aku buat? Aku belum mempunyai kekasih. Maafkan aku jika perkataanku menyakiti hatimu. Tapi aku benar-benar tak tahu siapa kau. Sekian suratku.                                                                               From: Sun

 “ Apakah Sun memang benar-benar melupakanku? Aku kecewa sekali dengan dia. Dia tak pernah berbohong kepadaku. Tapi,mengapa Sun melupakanku?” Vina pun menangis. Seharian itu Vina menangis. Tapi dalam hati Vina dia berharap agar Sun mengingat semua.

                5 tahun kemudian, aku telah berhasil mencapai cita-citanya yaitu untuk menjadi seorang dokter. Vina pun juga telah mencapai cita-citanya untuk menjadi seorang Pramugari. Pada saat aku masih berada di rumah sakit, Vina pergi ke rumah orang tua Sun.

“ Permisi. Apakah ini benar rumah Sun?” Tanya Vina.

           “ Oh ya benar. Silakan masuk.” Kata ibu Sun mempersilakan.
“ Maaf anda ini siapa dan ingin bertemu dengan siapa?”  Tanya ayah Sun.
 “ Nama saya Vina. Saya kesini ingin menanyakan sesuatu.” Kata Vina.
“ Kau Vina? Wah sekarang ini kau cantik sekali. Kau mau bertanya apa Vina?” Tanya Ayah Sun.
                “Aku ingin menanyakan apakah Sun melupakanku?” Tanya Vina.
“ Iya. Dia berusaha mengingat. Tapi dia tak mengingat apapun. Apakah kau sakit hati?” Tanya Ibu Sun.
 “ Oh tidak ada apa-apa. Apakah Sun telah menjadi seorang dokter?” Tanya Vina.
“ Ya.” Kata mereka berdua serempak.
“ Kalau begitu aku pamit pulang dulu.” Kata Vina.
                Keesokan harinya,Vina menulis surat dan menitipkan pada ibu Sun. malam harinya,pukul 9 malam aku pulang dengan keadaan sangat lelah.
“ Sun,tadi ada surat untukmu. Bacalah ini.” Kata ibu Sun memberikan surat itu kepadaku. Aku membaca surat itu. Isi surat itu berbunyi:
To:my best friend
Sun.
Sun. Kemarin aku kerumahmu. Sekarang kau telah mencapi cita-citamu. Kini aku menagih janjimu Sun. Jika kau masih belum mengingatku ,bukalah kalungmu itu.
Cara membukanya kau katakanlah “ Janji untuk selamanya ”. Kau akan mengingat semuanya. Kalau kau telah mengingatku,temuilah aku di taman air mancur pukul 9.30 malam. Karena aku hanya bisa sampai jam 10.00 malam. Karena aku akan penerbangan malam ini.
From:your best friend
VINA


aku membuka kalungnya sesuai dengan perintah yang ada di surat, lalu keluarlah sebuah suara yang berbunyi:
“Vina kau adalah teman terbaikku. Aku takkan melupakanmu. Kita telah berjanji kita kan terus bersama dan jika kita berpisah,kita pasti kan bertemu kembali,kan Vina?”
 “Ya tentu saja. Aku juga takkan melupakan dirimu. Kita akan menepati janji kita. Kau juga jangan mengingkari janji kita.”
                Aku teringat akan suara itu. Itu adalah suaraku dan suara Vina ketika mereka akan berpisah. Aku segera melihat jam.  Jam telah menunjukkan pukul 9.50. Aku segera berangkat ke taman. Perjalanan dari rumah hingga ke taman membutuhkan waktu 5 menit lebih. Aku ingin sekali menemui Vina untuk menepati janjiku kepada Vina.
                Sampai di taman,tak ada siapapun disana. Hanya ada aku sendiri yang berada di taman. Aku mencari Vina. Tetapi aku tak menemukannya. Akhirnya aku menangis di kursi taman. Aku menyesali kebodohanku karena telah melupakan Vina.
“ Mengapa aku bisa melupakan Vina. Padahal aku telah berjanji dengan dia. Aku memang bodoh. Mungkin Vina sekarang telah pergi. Bodohnya aku. Bodoh bodoh bodoh…” Aku benar-benar sangat menyesal.
                “Kau memang bodoh Sun.” Suara dari arah belakang mengagetkanku.
“Vina.” Aku sangat senang sekali bertemu dengan Vina. Aku segera menghampiri Vina dan  segera memeluk Vina karena sangat senang sekali.
“ Vina. Maafkan aku. Tapi,sekarang ini aku telah menepati janjiku.” Kataku dengan sangat senang.
” Sun aku juga sangat senang bertemu denganmu. Malam ini aku tak jadi ikut penerbangan karena temanku meminta untuk menggantikan posisiku.” Kata Vina.
`               Semalaman itu di taman, aku dan Vina saling bertukar cerita. Aku benar-benar sangat senang dapat kembali lagi dengan Vina. Malam itu juga adalah malam yang membuatku bahagia. Aku menjadi kekasih Vina.
                Beberapa bulan kemudian, aku memutuskan untuk menikah dengannya. Aku benar-benar sangat bahagia hidup dengannya dan menjadi belahan jiwanya. Lalu, cerita ini akan selalu aku kenang karena ini adalah cerita tentang kebodohanku yang melupakan semua janjiku. Jangan ada yang meniruku ya! ;)