Rabu, 01 Mei 2013

PERBEDAAN



                Di malam yang sunyi terlihat seorang gadis sedang duduk merenung di teras rumahnya sambil menatap bintang yang bertaburan di langit dan bulan yang sedang bersinar penuh. Gadis itu hanya mengenakan pakaian santainya. Sesekali dia bergumam atau bersenandung kecil. Wajahnya tampak sedang bersedih.
                Lalu dari dalam rumahnya muncul seorang gadis yang kira-kira seumuran dengan gadis itu. Dia duduk disamping gadis yang sedang merenung itu.
                “ Hai Candra. Sedang apa kau disini? Kau terlihat lesu begitu. Apa kau capek?” Sapanya.
                “ Tidak. Aku tidak capek.” Jawab gadis yang bernama Candra itu.
                “ Lalu kenapa? Apa kau baik-baik saja?”
                “ Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
                “ Apa kau sedang sedih?”
                “ Tidak. Aku tidak sedih.”
                “ Kali ini kau tidak bisa membohongiku. Kau sedang sedih. Benar kan? Mengapa kau tak cerita saja padaku. Aku bersedia untuk mendengarkanmu.” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
                Candra menarik napas panjang dan diam sejenak. Lalu dia mulai bicara.
                “ Aku kesepian kak.”
                Kakak Candra menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung dengan maksud adiknya.
              “ Bagaimana kau bisa merasa kesepian? Selama ini yang aku tahu kau punya banyak teman. Bahkan aku juga tahu kau punya banyak pacar. Bagaimana bisa kau merasa kesepian?”
               “ Itulah yang dikatakan semua orang padaku. Mereka hanya melihatku sekilas. Mereka tak melihat keadaanku yang sebenarnya. Ada beberapa yang tahu bahwa aku kesepian. tapi tak ada yang menghiburku. Menghampiriku pun tidak.” Kata Candra sambil menahan air matanya.
                “ Bagaimana kalau aku buatkan teh. Kau mau? Agar saat kau bercerita kau juga bisa tenang.”
               Candra hanya mengangguk lesu. Kakak Candra segera masuk kembali. Beberapa menit kemudian kakak Candra membawa dua gelas teh hangat dan sekotak tisu. Candra mengambil segelas teh nya lalu meminumnya sedikit dan meletakkannya kembali.
                “ Lanjutkan ceritamu.” Kata kakak Candra.
                Candra menarik napas lagi dan mulai bercerita. “ Entah mengapa aku merasa sendirian. Guruku pernah bercerita bagaimana orang yang merasakan kegelapan karena buta dan keheningan karena tuli tetapi mereka bahagia. Sementara aku? aku tidak tuli tapi tak ada yang kudengar. Aku bagaikan kesepian dalam keramaian. Aku mendengar suara tetapi suara itu bukan ditujukan untukku. Rasanya benar- benar hening dihati ini.”
                “ Dulu, aku juga merasa kesepian. aku iri dengan anak yang selalu populer. Terkenal di sekolah, di kalangan guru-guru dan punya banyak teman. Kuamati dia bagaimana dia bisa seperti itu. Aku mencoba untuk mendekatinya. Ternyata dia bisa seperti itu karena cantik dan fashionable. Selain itu dia juga pintar. Tentu saja aku tak bisa menirunya. Sulit bagiku untuk fashionable seperti dia. Seluruh tabunganku bisa habis hanya untuk membeli pakaian, aksesoris dan make up yang sebenarnya takkan pernah kupakai karena aku tak nyaman. Aku juga tak bisa menjadi pintar seketika karena untuk menanggapi pembicaraan orang saja butuh waktu lama.”
                “ Aku mencari tahu bagaimana dia bisa sepintar itu. ternyata orang tuanya adalah guru. Belum lagi dia juga ikut les di tempat les yang terkenal. Aku tak bisa ikut les seperti itu karena biaya yang mahal. Lagi pula lebih baik aku bermain atau dirumah saja daripada belajar seperti itu.”
                “ Saat bergaul dengan mereka aku juga kesulitan beradaptasi. Yang membuatku sulit karena mereka membicarakan tentang fashion. Aku memang mengerti tentang fashion. Tapi bagiku itu tak menarik sama sekali untuk dibahas. Belum lagi aku juga tak terlalu mengerti tentang itu. Aku memang leih suka simple. Banyak yang bilang kalau aku cewek tomboy. Dan seharusnya cewek tomboy bersama anak laki-laki. Aku mencoba dekat dengan anak laki-laki. Kau tahu apa yang terjadi?”
                “ Mereka menganggapku cewek aneh. Seharusnya cewek itu berteman dengan sesame ceweknya. Mereka menganggap cewek itu manja, cengeng, genit, dan lemah. Cewek tidak bisa bermain sepak bola. Cewek tidak bisa diajak ngobrol tentang game atau hal-hal cowok. Kuakui aku memang tidak suka sepak bola dan aku tak mengerti tentang game. Tapi setidaknya mereka sama-sama suka anime sepertiku. Tidak ada cewek lain di sekolahku yang suka anime selain aku. Dan para laki-laki itu meninggalkanku.”
                “ Beruntung aku bisa memiliki beberapa sahabat. Meskipun tak banyak tapi mereka sahabatku. Tapi sayangnya. Saat aku sempat berbeda pendapat dengan mereka, aku hanya bisa diam. Kadang aku tahu yang mereka lakukukan itu salah. Tapi aku tak bisa mengatakan pada mereka kalau itu salah. pernah aku mengatakannya pada mereka bahwa ada hal yang mereka lakukan itu salah. Mereka marah padaku selama berhari-hari. Sejak itu aku hanya bisa diam saja.”
                “ Aku juga pernah dijauhi teman-teman sekelas hanya karena aku menyukai lagu-lagu jepang dan menyukai anime. Padahal aku tahu diantara mereka ada yang suka anime dan tentu saja itu cowok. Tapi mereka menganggapku orang aneh yang harus dijauhi. Tak segan-segan mereka mengejekku dan memperlakukanku tak adil. Pernah aku sampai menangis di depan mereka karena aku tak bisa menahan rasa kecewaku pada mereka. Mereka bilang kalau mereka peduli padaku. Tapi saat d belakangku mereka masih tetap mengejekku. Mereka bilang aku cengeng. Hanya karena masalah itu saja aku sampai menangis. Aku tak tahu harus seperti apa lagi. Mereka juga pernah bilang aku harus terbuka pada mereka agar aku tak kuper. Aku mencoba dekat dengan mereka. Tapi mereka tetap menganggapku makhluk asing.”
                “ Ada juga yang bilang padaku kalau ingin punya banyak teman lebih baik di dunia maya saja. Anak-anak di dunia maya lebih asyik daripada di dunia nyata. Aku mencoba membuat akun facebook. Tapi nyatanya sama saja. Aku sudah menemukan anak-anak yang memiliki kesukaan yang sama. Tapi aku serasa anak kuper karena mereka membicarakan hal yang tak kumengerti. Seperti menggunakan bahasa jepang. Atau mereka berbicara tentang teknologi atau apapunlah itu yang tak kumengerti. Aku berusaha belajar sedikit-sedikit. Yang membuatku sedih adalah mereka begitu dingin padaku. Aku mencoba ramah sama seperti yang lain. Yang menggunakan banyak emoticon, atau apalah. Tapi tetap saja sama dengan dunia nyata.”
                “ Lalu ada yang bilang kalau mau terkenal banyak-banyak update status. Cewek itu pasti banyak yang nge-add. Statusnya banyak yang ngelike. Fotonya juga banyak yang komen. Aku sudah mencoba semuanya. Dan nyatanya yang ngelike juga Cuma yang benar-benar kenal aku. yang komen juga Cuma satu orang. yang nge-add Cuma akun-akun toko online. Ada juga yang bilang kalau punya twitter itu termasuk anak gaul.”
                “ Kuturuti juga buat twitter. Tapi nyatanya juga sama saja. Bahkan aku seperti di abaikan. Jumlah Following lebih banyak dari followers. Kalau ada yang sudah ku follback, mereka unfollow aku. jadi terlihat aku yang jadi fans mereka. Bagiku itu lebih kejam karena tak diperlakukan seperti teman. Mereka bukan mencari teman tetapi mencari fans.”
                  Di sekolahku, ada kelompok-kelompok. Ada kelompok anak-anak yang dibilang nakal. Kalau aku bergabung di kelompok itu, mereka menganggapku aneh. karena mereka menganggap aku adalah anak culun baik-baik yang gak akan ngerti tentang mereka. Aku juga mencoba bergabung dengan kelompok anak-anak yang terkenal alim-alim. Yang mereka bicarakan kebanyakan tentang mitos-mitos. Tentu saja aku tak menyukai mitos karena bagiku itu tak masuk akal. Ada juga kelompok anak lesbi. Bagi mereka aku orang yang harus diwaspadai karena mereka takut aku mengatakan pada orang lain kalau mereka lesbi. Ada juga kelompok yang di bilang modern. Mereka membahas barang-barang elektronik yang terbaru dan aku sama sekali tak mengerti tentang itu. Aku membeli barang elektronik bukan karena mengikuti tren. Tapi karena kebutuhan.”
                “ Para mantan pacarku juga begitu. Mereka mempermainkanku lalu meninggalkanku dan merendahkanku. Mereka menganggap aku itu bodoh, tak pantas memiliki teman, tak pantas untuk dicintai, aku sangat jelek dan buruk. Banyak hal yang tak baik padaku. Aku berkali-kali bilang bahwa aku juga manusia. Aku sama dengan mereka. Perbedaanku hanya di fisik. Tapi mereka selalu menganggapku rendahan. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Cinta seharusnya tak seperti itu. Mereka tak mencintaiku.”
               
                “ Aku mengerti seharusnya kita bisa menerima perbedaan. Perbedaanlah yang membuat hidup ini semakin berwarna. Tapi yang tak bisa kumengerti adalah perlakuan mereka padaku. Sempat aku menjadi juara di kelasku. Ada yang menganggapku terlalu hebat sampai-sampai mereka menganggap aku tak sebanding dengan mereka. Aku senang dipuji. Tapi mereka memperlakukanku seperti orang besar yang harus selalu disanjung. Ada juga yang sinis padaku. Mereka menganggap bahwa seharusnyalah mereka yang juara dan bukan aku. aku sampai bingung, dulu temanku yang juara langsung mendapat banyak teman. Aku justru tidak ada teman.”
                “ Aku sampai bingung harus bagaimana lagi. Banyak sekali perbedaan. Aku seperti diasingkan. Sering aku menyendiri dan bersedih. Mengapa aku selalu sendiri? Setiap malam aku hanya bisa mencurahkan hatiku pada bulan. Lama-lama aku seperti orang gila kak. Tapi tentu saja aku tak gila.”
               
Candra mengakhiri ceritanya dengan berlinangan air mata. Dia meminum teh yang sudah mulai dingin. Kedua gadis itu hanya diam seribu bahasa. Tak ada satupun yang berbicara.
               
“ Maaf kak kalau ceritaku tak berurutan. Yang kuceritakan adalah semua yang ingin kucurahkan. Mungkin karena sudah terlalu lama kusimpan di hati sampai keluarnya pun tak terkendali. Mungkin kakak juga akan berkata sama seperti mereka ‘sabar ya can.’ Hanya itu yang bisa mereka berikan padaku.”

“ Candra. Aku tahu kau memang tak suka hal yang rumit. Bagimu cewek-cewek itu sangat rumit kan? Mereka harus berdandan menggunakan make-up hingga wajah aslinya tertutupi dan mereka seperti menggunakan topeng. Mereka memakai pakaian yang di anggapnya paling modis tapi bagimu itu seperti kain lap karena kainnya yang tipis. Kau lebih suka menjadi dirimu sendiri kan? Tak perlu aneh-aneh seperti merubah bentuk rambut, memakai make up, aksesoris, atau baju-baju yang tak bisa dibuat santai. Aku sendiri suka gayamu yang sederhana. Kau hanya membeli apa yang kau butuhkan. Bukan mengikuti tren. Bagiku pemikiranmu juga bagus. Tapi, ada kalanya kau juga perlu bergaul dengan mereka. Agar wawasanmu lebih luas. Kau bisa belajar dari pengalaman orang lain, baik pengalaman baik maupun buruk. Benar katamu, perbedaan membuat banyak warna. Kau tak perlu bersedih hanya karena itu. Kau tak sendiri candra. Meskipun kau hanya bisa mencurahkan isi hatimu pada bulan. Bulan pasti mendengarkan. Bulan juga makhluk Tuhan kan? Dan benar katamu, aku akan mengatakan bersabarlah. Suatu hari nanti mungkin Tuhan akan memberikanmu teman hidupmu. Tuhan tahu apa yang kau butuhkan. Tetaplah tersenyum Candra.”
              Candra menghapus air matanya dan kembali menatap bulan.
 “ Kak. Kadang aku berpikir apakah bulan tak merasa kesepian sepertiku? Dia bersinar di malam gelap yang dingin hanya untuk menyinari bumi. Apakah dia tak sedih?”
  Kakak Candra tersenyum dan menjelaskan “ Tentu saja dia tak sedih. Karena dia menyinari bumi agar manusia dapat melihat saat malam. Dan bulan tentu saja tidak kesepian karena dia sedang menemanimu. Bulan saja tidak bersedih, mengapa Candra bersedih. Meskipun Candra sendirian, Candra bisa membantu teman-teman Candra kan? Candra bisa membantu teman-teman di sekolah kalau ada yang tidak mengerti tentang pelajaran sekolah. Candra juga bisa memberi saran kalau ada teman yang sedang memiliki masalah. Bulan memang tak bisa seperti bintang yang bersinar seperti berlian, tapi Bulan tak butuh keindahan. Bulan hanya ingin menyinari bumi. Candra juga harus bisa seperti bulan. Bahkan harus lebih baik dari bulan. Candra tidak ingin hanya berdiam diri seperti bulan yang hanya berdiam diri di langit kan?”
 Candra tersenyum dan mengangguk. “ Tapi kak, omongan kakak terlalu rumit.”
“ Hahahaha, tak usah kau hiraukan yang tentang bulan. Yang pasti kau harus lakukan banyak kebaikan untuk dirimu, orang lain, dan makhluk Tuhan. Jangan kau pikirkan tentang bagaimana perlakuan mereka padamu. Kau harus tegar. Tersenyumlah Candina Candra.”
 Candra tersenyum dan bernapas lega. Tiba-tiba Candra merasa tubuhnya terguncang-guncang.
 “ Can.. Candra.. Ayo bangun! Jangan tidur diluar nanti masuk angin.”
 Candra terbangun dan melihat ibunya yang berdiri di depannya. Candra melihat ke meja dan dia tak mendapati gelas-gelas teh yang tadi dia minum. Tiba-tiba dia teringat bahwa dirumah itu dia anak semata wayang. Ternyata Candra tertidur di teras.
 “ Ayo masuk. Kalau tidur di dalam saja jangan di teras. Ibu sampai panik karena tak menemukanmu di kamar.”
 “ Ehm, bu. Arti namaku itu apa?”
 “ Candina Candra itu berarti bulan perak. Bulan benar-benar indah kalau sinarnya berwarna seperti perak. Ada apa kau menanyakan arti namamu?” Kata ibu Candra.
 " Tidak apa-apa bu. hanya ingin tahu saja."
Mereka berdua lalu masuk kedalam rumah sederhananya yang tenang dan penuh kedamaian. Sementara sang bulan tersenyum bahagia karena bisa berbicara dengan Candra meskipun hanya dalam mimpi Candra saja.

Selasa, 10 Juli 2012

PERI MATAHARI


Matahari bersinar dengan terang. Seorang anak laki-laki yang berumur 3 tahun melihat ke langit. Apakah yang sedang pikirkannya? Yang dipikirkannya adalah peri yang di Matahari. Dia sangat ingin bertemu dengan peri Matahari.
                Peri Matahari mengerti apa yang diinginkan oleh anak itu. Tapi, dia harus berusaha bagaimana caranya agar matahari bersinar karena itu tugas yang diberikan oleh Dewi matahari. Tepat ketika musim hujan, peri Matahari tertutup oleh peri awan gelap. Pada saat itulah dia mendapat kesempatan bagus untuk bertemu dengan anak-anak yang berada dibumi.
                Anak-anak yang berada dibumi memang sangat berharap jika ada peri yang datang. Setiap malam, selalu ada peri yang datang menemani mereka. Hanya saja mereka telah tertidur dan tak sempat melihat peri-peri itu. Peri-peri itu adalah kelompok peri tidur malam.
                Aku segera menghampiri anak kecil yang bernama Boni. Ketika aku mendatanginya dia terlihat sangat terkejut dan takut. Wajar saja karena kami memang belum pernah bertatap muka dengan manusia. Mungkin hanya tinker bell saja yang bertatap muka dengan manusia. He..he..he.. kok bisa sampai di peterpan ya?
                “Siapa kau? Mengapa kau bercahaya sangat terang seperti itu dan mengapa kau begitu kecil?” Kata Boni dengan bingung. “ Hai aku adalah peri matahari. Kau tak perlu takut denganku. Apa kau mau kuceritakan tentang peri-peri?” Kataku. “ Kau adalah peri? wah,cantik sekali. Aku sudah sangat lama ingin melihatmu. Masuklah dan tolong kau ceritakan tentang peri ya!” pinta Boni.
                Aku dan Boni masuk ke kamarnya. Aku menceritakan tentang tugas kami dan jenis-jenis peri. Seperti peri kabut pagi, peri rembulan malam, peri tidur malam, peri hutan, peri bunga, peri awan, peri buah, peri tanaman dan masih banyak lagi.
                Aku bercerita sangat lama hingga hari telah malam. Dia pun tertidur. Ketika aku akan pergi, peri tidur malam telah datang untuk melaksanakan tugasnya. Sekarang waktuku untuk menerangi belahan bumi yang satunya lagi. Disana ada beberapa daerah yang tertutup awan gelap.
                Kami semua sangat senang jika bertemu dengan manusia dan kami juga tak pernah merasa suntuk jika harus melakukan tugas kami. Mungkin suatu hari nanti aku mendatangi kalian, jadi tunggu kami semua ya.

Kamis, 23 Februari 2012

Pelabuhan Malam Hari


                   Setiap malam, di pelabuhan selalu ada sinar mercusuar untuk memberi tanda kepada kapal agar tidak tertabrak batu karang. Setiap malam aku selalu melihat pemandangan seperti itu. Maklum saja karena aku bekerja untuk menjaga pantai dan menyalakan lampu mercusuar bersama beberapa temanku.
                Malam ini suasana sedikit berbeda. Rasanya sepi sekali di pelabuhan. Tak pernah sesepi ini pelabuhan. Jika sepi, mungkin masih tak terlalu sepi. Meskipun begitu kami tetap menyalakan lampu mercusuar. Padahal malam itu tak ada jadwal pelayaran. Perahu layar juga tak terlihat di tengah laut. Pada malam hari seperti ini kan’ waktunya berlayar. Aku dan teman-temanku heran.
                Karena sepi,aku dan teman-temanku hanya melihat dari atas mercusuar saja. Tiba-tiba lampu mercusuar mati. Temanku bernama Patih dan Patah memeriksa apa penyebab lampu mati. Seluruh kota juga mati. Aku dan teman-teman yang lainnya tetap mengawasi dari atas. Tiba-tiba mereka berdua kembali dengan napas yang tersenggal-senggal.
                “Kenapa kalian sampai seperti ini? Seperti dikejar anjing saja.” Kataku. “Jangan menghina kau. Tadi aku melihat mayat dibawah. Dia seperti terjepit. Lebih baik kau cek saja dulu siapa dia.” Kata mereka.
                “Enak saja. Harusnya kan’ kalian yang megecek bukan aku. Siapa suruh kalian lari. Kalau kalian takut, kalian pulang saja.” Kataku.
                “ Dasar kau ini Jul. Kau sih tidak melihat bagaimana mayatnya. Kau juga menyuruh kami pulang kan’ bagaimana kami bisa pulang kalau mayatnya masih dibawah?” Kata mereka. Aku dan semua temanku turun dan melihat kondisi mayat itu. Mayat itu terlihat seperti tertindih sesuatu. Ketika aku melihat lebih detail lagi,ternyata dia adalah seorang nelayan yang biasanya memberi tahu keadaan buruk bila terjadi.
                Jika dia datang, pasti ada sesuatu yang buruk yang memang harus disampaikan. Dia menuliskan sesuatu di lantai dengan darah. Tulisan itu adalah pergilah kalian dan warga dari kota ini malam ini juga. Kalau bisa bawa mereka pergi sebelum lampu mercusuar mati.
                Tulisan itu memang sedikit susah dibaca karena dia mungkin menulisnya dengan keadaan sekarat  dan tulisannya juga agak datar. Aku tak tahu apa yang dimaksudnya. Aku mencoba meyetel radio mungkin saja ada berita yang sangat penting. Ternyata sinyal radio tak ada. Kami menghubungi keluarga pak tua ini. Telpon juga tak berfungsi. Karena semakin lama suasana disana semakin menakutkan, kami menghubungi semua nomor yang kami ketahui. Tak ada gelombang komunikasi
Kami pergi meninggalkan mercusuar. Kota seperti kota mati. Akhirnya kami memutuskan untuk membagi 2 kelompok. Kami semua 12 orang, jadi aku dan 5 temanku mengamati dari pantai mungkin saja jika ada sesuatu yang bisa membantu. 6 orang lainnya berusaha memberitahu kepada warga agar segera pergi seperti yang dikatakan oleh pak tua.
                Ketika sampai dipantai, Aku melihat seorang wanita berdiri di pinggir pantai. Aku dan teman-temanku menghampiri wanita itu.
                “Maaf kami mau bertanya apakah anda sendirian berada disini?” Tanya Jimmy dengan sedikit nada menggoda.
“ Aku bersama dengan teman-temanku yang akan pindah kesini. Namaku Emily. Mengapa kalian bisa berada di pulau tempat yang akan kami tinggal?” Kata wanita itu.
                “Maaf, kami sudah tinggal disini sejak kota ini terlahir. Apakah teman-teman anda bisa membantu kami untuk pergi meninggalkan kota ini?” Kataku.
“ Kalian tak layak mendapatkan bantuan. Kalian seharusnya tak berada disini. Kalau kau ingin melarikan diri dari kami maka kau harus membayar semua kelakuanmu!” Kata Emily. Matanya berubah menjadi merah menyala dan tiba-tiba dia menghilang.
“Seperti hantu saja.” Kata Jimmy. Lalu dia merinding sendiri
                Aku dan teman-temanku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami pergi ke rumah pak tua untuk menanyakan kepada istrinya apa yang sebenarnya terjadi. Rumah pak tua memang jauh dan berada di ujung pulau ini. Kota kami adalah sebuah pulau kecil dan luas kota kami juga seluas pulau ini. Kami menaiki kuda yang biasanya digunakan untuk berpariwisata di pantai.
                Sesampai dirumah pak tua itu,kami segera masuk dan menceritakan apa yang telah terjadi pada pak tua. Istrinya seperti sudah mengetahui kejadian itu. Ketika dia mendengarnya dia tak terlalu sedih.
“Maaf nek, kami cuma ingin menanyakan apa yang sebenarnya akan disampaikan oleh pak tua. Apakah keadaannya sangat gawat?” Tanya Jinny.
“ Ya keadaan memang sangat gawat. Aku akan menceritakan kepada kalian tentang berdirinya kota ini. Dulu, aku tinggal disini bersama suami dan keluarga besarku dan keluarga besar suamiku. Lalu, ada sebuah keluarga yang akan pindah ke kota ini. Sebenarnya kami sangat senang jika bukan hanya kami saja yang tinggal disini. Tapi, saudara-saudaraku tak senang dengan keluarga itu. Mereka meminta kepada kami untuk membuat alasan bagaimana caranya untuk mengulur waktu. Aku dan suamiku mempunyai ide.
Ketika mereka datang,aku mengatakan, "Kami tak bisa menerima kalian tinggal disini. Kalian boleh tinggal disini jika malam hari dipelabuhan ini lampu mercusuar mati. Pada malam itu adalah malam ketika hari, tanggal, jam dan dan bulan yang sama seperti sekarang ini lampu mercusuar mati. Tapi,jika kami semua belum pindah dari tempat ini,kalian harus memberi kami waktu 10 jam untuk pindah dari pulau ini.” Mereka menyetujui perjanjian itu. Ketika mereka berlayar, keluarga kami masih tak setuju dengan alasanku. Mereka menyuruh kami untuk membunuh mereka. Aku dan suamiku segera menyusul dan diam-diam membakar kapal itu. Tak ada yang selamat satupun. Tapi, aku dan suamiku masih merasakan bahwa mereka pasti akan datang sesuai perjanjian. Tepat malam ini mereka telah datang. Sisa waktu kita tinggal 8 jam saja. Kita harus segera menghubungi warga agar pergi dari sini.” kata Nenek.
                Lalu, kami mendapat surat dari merpati punya kami yang biasa mengantarkan surat. Isi dari surat itu berbunyi: KAMI TAK BISA MEMINDAHKAN RAKYAT KARENA MEREKA MENANYAKAN APA  ALASANNYA. KUMOHON KALIAN SEGERA DATANG KE ALUN-ALUN KOTA DAN MENJELASKAN APA YANG TERJADI SEBENARNYA.
                Kami dan nenek segera pergi ke alun-alun kota. Sesampai disana nenek menerangkan dengan jelas apa yang terjadi. Ketika aku menengok ke belakang, aku dapat melihat keluarga itu sudah menunggu dengan tidak sabar. Karena tak bisa pergi secepat itu, kami berpura-pura pergi dari sini dan bersembunyi di belakang kota. Hanya nenek tua saja yang menemui mereka. Aku juga ikut menemaninya.
                “ Rupanya kalian telah datang semua. Kalian boleh tinggal disini, tapi aku tak tahu apakah saudara-saudaraku  yang telah lama mati mengizinkan kalian? Jika mereka berkumpul disini dan berteriak keras berarti kalian harus pergi dari sini. Tapi, jika mereka berkumpul disini dan hanya diam saja berarti kalian boleh tinggal disini. Jika mereka tak berkumpul dan tak mengeluarkan suara berarti pulau ini harus dimusnahkan.” Kata Nenek. Aku kaget mendengar pernyataan nenek. Itu adalah keputusan yang sangat cepat dibuatnya.
                Lalu, muncul banyak sekali orang-orang yang mungkin jenisnya sama dengan keluarga itu berkumpul di sekeliling kami dan berteriak sangat keras. Sesuai perjanjian mereka pergi meninggalkan kota ini. Mereka belum berhenti berteriak hingga akhirnya kapal hantu itu sudah tak terlihat lagi. Setelah itu kami semua aman dari gangguan hantu itu. Hanya saja mereka masih berada disana dan menunggu hingga lampu mercusuar mati seperti perjanjian pertama mereka.
                Itu adalah cerita yang tak pernah kulupakan dari para hantu. Suatu hari, mereka pasti akan kembali dan pertengkaran mereka takkan pernah berakhir untuk selamanya.

Sabtu, 31 Desember 2011

ANGIN


Setiap malam, aku selalu melihat kakakku yang sedang berada di teras. Dia selalu melihat ke langit. Aku tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkannya. Kakak juga tak pernah berbicara denganku. Apalagi dia tak pernah bertatap muka denganku. Aku jadi semakin ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan kakak.
Suatu hari, aku diam-diam mendekati kakak yang sedang melihat ke langit. Dia hanya duduk terpaku, aku heran apakah dia tak merasa lelah jika dia seperti itu. Aku duduk disampingnya dan memegang tangannya. Kakak terlihat hanya biasa saja. Dia memandangku dalam-dalam sampai akhirnya dia kembali menatap ke langit. Aku sedikit kesal dengan sikapnya yang sangat dingin. Padahal, dulu kata ibu, ayah tak pernah bersikap dingin pada siapapun, apalagi ibu. Aku heran kenapa kakak bisa seperti itu.
“ Selamat malam, kak. Sedang apa kakak disini sendirian?” tanyaku dengan lembut. Aku takut membuatnya marah. “ Kalau kau ingin tahu apa yang kulakukan, pejamkan matamu. Kau akan  mendengarkan suaraku.” Jawab kakak dengan sangat singkat. Aku tak tahu apa yang dimaksud kakak. Aku hanya diam saja dan menuruti apa kata kakak. Aku memejamkan mataku dan aku sangat kaget mendengarkan sebuah suara yang amat sangat merdu. Ketika aku membukakan mataku, suara itu tiba-tiba menghilang. Aku memandang kakak yang terus memandang ke langit. Lalu, aku kaget ketika kakak berbicara.
“ Mia, sebaiknya kau masuk saja kedalam. Kau hanya mengganggu saja bagi kami.” Kata kakak. Aku hanya mengangguk dan pergi. Aku heran dengan kakak, disana ‘kan Cuma ada aku, kenapa dia mengatakannya kami dan mengapa aku dibilang mengganggu. Lalu, aku melihat ada seseorang yang sedang memperhatikan kakak. Karena gelap, aku tak dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas. Meskipun kakak sedingin itu sebenarnya kakak sangat cantik.
Keesokan harinya aku ingin sekali mendekati kakak. Hanya saja pintu kamarnya tertutup. Aku mengetuk pintunya perlahan. Tak ada jawaban apapun dari dalam.
“ Mia,jangan ganggu kakakmu. Dia tak mau diganggu sama sekali. Lebih baik kau sarapan dulu.” Kata ibu dari belakang.
Aku melihat ibu membawa semangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat. Setiap pagi ibu selalu membawanya ke kamar kakak. Aku hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ibu yang masuk ke kamar kakak.
Ketika aku dan ibu berada di ruang makan, aku memecahkan keheningan di ruangan itu.
“ Ibu, bolehkah aku bertanya?” tanyaku.
“ tentu saja boleh, memangnya ada apa Mia?” jawab ibu dengan sangat lembut.
“ Mia heran, kenapa kakak tak pernah berbicara dengan kita. Bahkan kalau berbicara itupun sangat singkat. Aku tak bisa memahami perasaan kakak.” Kataku.
“ meskipun begitu, dia juga kakakmu. Tapi, semua yang kau katakan itu benar. Ibu juga sendiri heran apa yang sebenarnya dipikirkan kakakmu. Setiap malam, kakakmu selalu saja berada diluar dan hanya memandang langit dengan tatapan kosong. Seandainya saja ibu bisa mengerti.” Kata ibu dengan sedikit sedih.
Malam ini kakak kembali berada diluar. Aku hanya melihat kakak dari dalam jendela. Lalu, aku melihat ada seseorang yang mendekati kakak dan duduk disebelah kakak. Aku sangat kaget karena itu adalah Brain yang sangat suka aku ikuti karena sebenarnya aku suka dengannya. dia hanya diam lalu memegang tangan kakak. Kakak hanya memejamkan mata dan melepaskan tangannya dari genggaman Brain. Aku baru ingat kalau aku belum memperkenalkan kakak pada Brain. Aku takut nanti Brain mengira bahwa itu aku karena wajah kakak kembar denganku. Lalu, aku membuka sedikit jendela agar aku bisa mendengarkan suara mereka berdua.
“ Selamat malam nona, siapakah nama anda?” tanya Brain dengan sangat lembut dan sok merayu. Itu adalah ciri khas Brain. Kakak hanya memandangnya dalam-dalam dan kembali melihat langit.
 “ apakah kau sedang melihat bulan itu?” tanya Brain.
Kakak hanya diam saja dan tak berekspresi. Brain semakin mendekat dengan kakak. Lalu, tiba-tiba saja kakak melakukan sesuatu yang belum pernah aku lihat yaitu menampar Brain tanpa ekspresi sedikitpun.
 “ Kau hanya mengganggu kami saja dan kau adalah orang yang amat sangat membuatku resah daripada adikku. Kalau kau tak ingin ada badai, sebaiknya kau segera pergi dari sini.” Kata kakak dengan nada yang sedikit terdengar marah. Itu pertama kalinya aku melihat kakak sedikit berekspresi.
Brain terlihat ketakutan dan akhirnya dia pergi. Kakak kembali duduk dan hanya menatap langit. Aku tak bisa mengerti kenapa kakak bisa semarah itu dengan Brain? Aku kembali ke kamar dan tidur. Keesokan harinya aku mendengar suara yang amat sangat lembut yang bukan seperti biasa aku dengar. Tak mungkin itu suara ibu. Suara siapakah itu? Aku membuka mataku dan aku melihat kakak yang duduk disampingku. Aku tak tahu harus melakukan apa.
“ maaf kalau kakak mengganggumu. Kemarin, kau tahu ‘kan kalau Brain datang mendekatiku. Aku tahu kau pasti sedikit cemburu. Kakak tak ingin menyakiti hatimu, hanya saja kakak juga sudah terlanjur jatuh cinta dengan Brain. Hanya saja kakak tak peduli. Oh ya, kakak ingin memberitahumu, Brain akan menunggumu di dekat sungai pukul Sembilan. Jadi, sebaiknya kau segera datang.” Kata kakak. Suara kakak sangat lembut dan senyum kakak yang sangat manis membuatku terpesona.
“ sekarang jam berapa kak?” tanyaku.
“ sekarang sudah jam setengah Sembilan.” Kata kakak.
Aku sangat kaget dan aku cepat-cepat pergi ke kamar mandi. setelah bersiap-siap aku segera berlari. Di jalan aku terus memikirkan kakak. Kenapa firasatku sangta tak enak. Selama aku berbicara dan berjalan-jalan dengan Brain, pikiranku hanya pada kakak. Firasatku benar-benar tak enak. Akhirnya aku memutuskan untuk segera pulang. Aku melihat kakak masih biasa saja. Hanya saja dia mengurung diri didalam kakak dan duduk di depan radio yang sedang berputar. Aku sangat lega melihat kakak meskipun hanya dari jendela luar kamar kakak.
Malam harinya, aku melihat kakak berada diluar. Hanya saja berbeda dari biasanya, dia memejamkan mata. Aku tak tahu apa yang dilakukannya. Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku masih melihat kakak yang berada diluar hingga akhirnya matahari pun terbit. Aku heran karena biasanya kalau matahari telah muncul, kakak akan pergi dari tempat itu dan masuk ke kamarnya.
Ibu datang dan menghampiriku.
“ Mia, apa yang terjadi dengan kakakmu? Kenapa sampai pagi ini dia belum masuk ke kamar?” tanya ibu dengan lembut.
“ aku tak tahu bu. Dia hanya diam saja dan terus memejamkan matanya bu.” Jawabku.
 Aku memegang tangan dan tubuh kakak. “ Ibu, kenapa tubuh kakak sangat dingin?” tanyaku dengan polos.
 Aku juga sedikit khawatir dengan kakak yang lemah itu. Ibu meletakkan tangannya di lengan kakak untuk merasakan denyut nadinya. Tiba-tiba saja ibu menangis. Ternyata nyawa kakak sudah tidak ada. Aku menangis di pelukan ibu. Aku tak menyangka bahwa suara yang sangat lembut itu dan yang pertama kali aku dengar akan hilang begitu saja. Aku merasa aku seperti sesuatu yang hanya membawa bencana saja.
Setelah proses upacara pemakaman telah selesai, aku memasuki kamar kakak yang sangat bersih dan wangi. Tak seperti kamarku yang berantakan sekali. Aku melihat ada sesuatu yang terbungkus sebuah kotak yang dibungkus seperti kado terletak diatas meja. Aku membaca surat yang berada diluar kotak. Isi surat itu adalah:
Bukalah dan kau akan tahu siapa aku.
Aku membuka perlahan. Ternyata itu hanyalah sebuah rekaman dan gantungan lonceng milik kakak. Aku menyetel rekaman itu di radio milik kakak. Aku merekam kaset itu. Mungkin saja aku bisa memberitahukannya pada ibu. Lalu terdengar sebuah suara yangs angat lembut.
“ hai, kenalkan namaku mytha. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Wajaku sangat mirip dengan adikku yang bernama Mia. Aku jarang sekali berbicara dan bertatap muka dengan keluargaku. Aku seperti itu sejak ayah meninggal. Sebenarnya aku sangat sayang pada adikku, hanya saja aku tak mau kalau dia tahu apa yang aku lakukan. Setiap malam, aku sering sekali keluar rumah dan melihat ke langit. Aku melakukan itu karena disana aku dapat melihat ayah dan suara ayah yang sangat merdu. Ayah memberitahuku bahwa aku akan tinggal disana. Aku tak tahu apa maksud ayah, karena itu aku selalu melihat kesana. Hingga akhirnya kemarin malam aku mendengar suara ayah. Ayah mengatakan bahwa aku akan dapat melihat wajah adikku untuk yang terakhir kalinya, maka dari itu aku membangunkan adikku dan berbicara dengan adikku walau Cuma sebentar. Aku sangat merindukan adikku meskipun kami tak pernah pergi terlalu jauh, tapi rasanya seperti tak pernah bertemu selama lebih dari 13 tahun. Aku juga merasakan seperti masakan ibu adalah masakan yang paling enak yang pernah aku rasakan berbeda dengan masakan ibu sebelumnya. Hingga akhirnya pada malam hari aku memejamkan mata dan aku dapat merasaka bahwa aku terbang setinggi mungkin dengan ayah. Aku hanya dapat berharap semoga aku bisa terus berada disisi adikku yang paling aku sayangi. Maafkan aku karena aku telah membuat kalian sedih.” Tiba-tiba saja mati.
Aku tak mengerti apa maksud perkataan kakak. Bagiku yang terpenting adalah sebenarnya kakak sangat menyayangiku dan aku tak pernah menyadari hal itu, selamat jalan kakak. Aku akan tetap menyayangimu untuk selamanya.